Cara Mereka

‎Heboh LGBT mengingatkan pada satu memori manis di masa lampau. Aku tidak mau membicarakan soal pro dan kontranya ya, karena obrolan itu seperti terlalu mainstream di blog ini hahaha.
Ada sosok perempuan yang beberapa kali pernah kutemui dulu. Dia perempuan sederhana dengan jilbab yang menghiasi penampilannya.
Ibu, begitu ia kupanggil, pernah menjadi guru taman kanak-kanak. Tapi seiring dengan banyaknya tenaga pengajar muda yang memiliki pendidikan tinggi, ibu memilih untuk mengundurkan diri. “Ibu tau diri aja neng, lulus SMP aja nggak,”kata ibu kepada aku yang sedang menyantap ayam bakar dan sambal terasi buatannya.
Akhirnya ibu pun memilih berjualan sembako di salah satu pasar tradisional di Subang. Sementara bapak, suaminya, bekerja sebagai pegawai negeri sipil di kota yang sama.
Suatu hari ibu bertanya, bagaimana pengalaman aku setelah bekerja menjadi wartawan. Aku pun bercerita betapa menyenangkannya pekerjaan yang baru aku lakoni itu, hanya saja aku sering membuat bunda (ibu kandungku) khawatir karena suka pulang malam. Apalagi aku pulangnya pakai motor.
“Ati-ati ya neng, aman gak ya jalur pulangnya?”kata ibu. Sebenarnya sebelum menikah, ibu tinggal di Bandung. Jadi dia sedikit tahu lah soal kondisi daerah rumah aku.
“Aman bu, cuman yah di depan LP Sukamiskin itu suka banyak banci gitu bu, lagi nunggu pelanggan. Hahaha..,”ujarku sambil terus mengunyah.
Ibu pun tersenyum, sambil membereskan meja makan. Lalu dia pun berkata “Yah mereka mencari nafkah, tapi dengan cara mereka,”kata ibu.
Perkataan ibu yang terakhir berhasil membuat si gembul ini berhenti mengunyah. Bagaimana bisa ibu berkata seperti itu?
Perempuan itu tidak lulus SMP, tinggal di kota kecil dan sehari-hari berkutat di pasar becek yang tidak keren. Tapi pola pikirnya sangat terbuka dan bijak. Ibu tidak sinis, meskipun tetap tidak setuju mengenai waria.
Perkataan ibu juga membuat aku merenung sepanjang perjalanan pulang dari Subang ke rumah. Aku jadi berpikir bahwa kita memang tidak berhak menghakimi begitu saja tentang kondisi seseorang. Perjalanan hidup seseorang berbeda-beda, kita tidak tahu apa yang mereka alami sehingga berada dalam kondisi tertentu.
Aku beruntung, menjadi anak di keluarga yang baik dengan kasih sayang yang berlimpah. Keluargaku tidak kaya, tapi aku selalu cukup mendapatkan makanan dan pendidikan yang memadai. Namun tidak semua orang mendapatkan itu kan?
Hidup terlalu pelik untuk dipikirkan sendiri. Untuk bisa dimengerti seluruhnya. Aku hanya bisa bersyukur berada dalam posisi saat ini. Satu yang pasti, sejak itu aku tahu bahwa pola pikir seseorang tidak ditentukan oleh pendidikan, pekerjaan atau dimana dia tinggal, tapi dari hati.
Sekarang, sudah lama aku tidak bertemu ibu. Dia memang memintaku untuk terus bertemu dengannya. Tapi sejak menikah, ada hati yang harus kujaga. Aku juga tidak mau kehadiranku terus mengingatkan tentang kematian anaknya 7 tahun silam.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s