Sore Tak Biasa

Sore yang tak biasa saat aku melihat dia termenung menatap papan setrikaan di ruangan dapur wisma PR. Dia, yang biasa kupanggil kang Nur, office boy yang melayani dan menjaga wisma di kawasan Menteng tersebut.
Kang Nur adalah ayah satu anak, tapi usianya lebih muda dari aku. Sebagai sesama orang sunda, aku lebih suka menyapanya akang. Dia tinggal terpisah dengan istri dan anaknya yang menetap di Kuningan, Jawa Barat.
“Kenapa?” kata aku menyapanya.
“Ah gak papa” kata Kang Nur yang kaget disapa aku, lalu tersenyum malu karena ketahuan melamun.
“Ko melamun?”kataku melanjutkan.
“Bentar lagi puasa ya teh”kata dia.
Aku pun paham. Ya, sebelum puasa biasanya orang sunda mengenal tradisi munggahan. Tradisi dimana sanak keluarga saling bertemu, makan bersama dan ditutup dengan salaman untuk minta maaf. Katanya sih supaya lebih khusyu puasanya karena sudah saling memaafkan.
Tapi apapun itu, yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan momen tersebut sebagai alasan untuk bertemu serta mengekspresikan kasih sayang dan perhatian pada keluarga. Ekspresi yang seringkali terlampau sulit diungkapkan. Bandingkan dengan ekspresi cinta pada pasangan. Gombalnyaaa setengah mati.
Tapi tidak dengan Kang Nur. Aku cukup paham bahwa gaji dia tidak seberapa untuk pulang kampung dengan alasan munggahan. Biaya hidup di Jakarta mahal, tapi standar gaji kami tetap saja menyesuaikan dengan Bandung, dimana kantor pusat perusahaan berada. Meskipun teman-teman yang tinggal di wisma selalu menyisihkan uang untuk Kang Nur setiap bulan, mungkin dia lebih suka menyimpannya untuk keperluan istri dan anaknya.
Aku pun tersenyum, menarik napas, dan menunduk. Ada rasa berbeda yang kurasakan seketika itu. Malu. Karena sebelumnya aku terlalu sibuk dengan perasaan diri sendiri. Melawan rasa jenuh, sesak, dan perasaan random lainnya.
Masih banyak orang yang punya masalah lebih berat dari aku. Ya sih. Ah sudahlah.
Akhirnya kuputuskan menghabiskan sore bersama kang Nur menonton film aksi di HBO, sambil makan keripik kentang rasa salmon. ‎Tiba-tiba saja kusadari kalau reaksi dia kerap mendahului cerita film.
“Kang Nur dah pernah nonton filmnya ya?”kataku.
“Udah tiga kali teh”kata dia.
Lalu kami pun tertawa bersama.
NB :
Cerita ini kutulis tanggal 15 Juni 2015. Beberapa tulisan di awal blog ini akan menampilkan cerita-cerita yang kutulis sebelumnya.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s