Anak Perempuanmu

Sinar matahari pagi yang mengintip dari balik tirai tebal, membangunkan Larasati dari tidurnya. Wangi lavender sisa lilin aromaterapi yang dinyalakan tadi malam, masih lekat dalam penciumannya di pagi hari itu.

Sejenak Laras, masih berbaring untuk sekedar melamun di tempat tidurnya yang nyaman dan besar. Bayangan masa kecil tiba-tiba menyergap khayalannya. Masa dimana seharusnya semua anak perempuan berada di pelukan ayahnya sambil memegang boneka beruang.

“Kamu cantik Laras, jangan sia-siakan itu”ucapan seorang perempuan paruh baya terngiang-ngiang di kepalanya. Seperti doktrin yang tidak bisa dia lepaskan.

Laras pun menyibakkan selimut warna pastel yang menghangatkan tubuh semampainya sepanjang malam. Dia kemudian beranjak dari tempat tidur. Kaki mungilnya langsung disambut dengan kelembutan karpet coklat keemasan yang menutupi seluruh lantai kamar tidurnya. Langkahnya lalu bergerak menuju kamar mandi, melewati berbagai furniture klasik di ruangan itu.

Terpaku dia menatap wajah putih pucat di dalam cermin. Raut wajah yang terlalu dewasa untuk usianya yang masih 22.

“Kamu harapan mama satu-satunya Laras,” teriakan perempuan itu kembali terngiang di benaknya. Perempuan yang menangis setelah pria-pria bertubuh besar mengetok pintu dengan kasar lalu mengambil seluruh isi rumah.

Tangannya membuka keran lalu mencuci muka dan gosok gigi. Bergegas ia menuju bathtub yang berisikan air hangat bercampur ekstrak susu dan madu. Semua sudah disiapkan pelayan-pelayannya. Laras pun segera melepas baju tidur sutera dan menenggelamkan diri ke dalam bathtub. Buih sabun dan wangi bunga seharusnya membuat pikirannya rileks. Namun benaknya malah terlarut dalam kenangan masa lalu.

“Jangan makan cokelat, nanti gendut”

“Cuci mukamu setiap hari, jangan sampai jerawatan”

“Jangan pernah pakai kaos oblong”

“Siapa lelaki yang mengantarmu tadi sore? Bilang sama dia, bawa mobil jika ingin jalan sama kamu”

Suara-suara yang didengungkan saat remaja itu terus terngiang di kepala Laras. Seperti nyamuk yang terjebak dalam toples bulat. Berisik dan bolak balik ke sana kemari.

Lima belas menit berlalu, Laras pun segera beranjak dari bathtub, mengenakan jubah mandinya, lalu menuju ruangan berukuran 6 x 4 meter. Di ruangan inilah dia menyimpan seluruh koleksi pakaian, sepatu, tas, topi, dan pernak pernik lainnya.

Delapan lampu bercahaya putih langsung menyala begitu ia membuka pintu ruangan tersebut. Dindingnya dicat putih, penuh ditempel rak rak berwarna senada. Rak tempat ia menggantungkan berbagai label, sebut saja Iwan Tirta, Anne Avantie, Peggy Harjanto, Tex Saverio, Christian Dior, Elie Saab, Alexander Mcqueen, dan Christian Louboutin.

Perhatiannya langsung tertuju pada tulle gown hitam lengan pendek yang dihiasi dengan lace berwarna senada. Koleksi Armani Prive yang akan ia padukan dengan anting berlian buatan perajin Bali yang sederhana. Perpaduan yang pas untuk acara hari ini. Tentu saja ditambah dengan clutch bag hitam berhiaskan perak, serta stiletto yang baru dia buru dari Hongkong minggu lalu.

Tangan halus Laras menyusuri setiap inci dari gaun itu. Memastikan bahwa semuanya tampil dengan sempurna. Sesuatu yang sudah terbiasa harus ia tampilkan sejak dulu.

“Bawa mobil pinjaman ini ke sekolah. Kamu harus bisa temenan sama orang kaya,”suara itu kembali datang di benaknya.

“Hari ini kita makan nasi pake terasi bakar saja, uangnya abis, mama beliin tas Gucci. Kamu harus tampil sempurna Laras,”ujarnya.

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Seketika dia pun bergegas untuk menemui orang yang ada di balik pintu. Dia Rio, penata rambut dan make up pribadinya. Setelah melakukan ritual sambutan, Laras pun mempersilahkan Rio untuk masuk ke dalam kamarnya.

Sejenak lelaki 33 tahun itu mengamati gaun yang akan dipakai Laras, mengangguk, lalu menyimpan semua peralatan di meja rias. Tanpa basa basi, tangannya langsung bergerak menata rambut hitam sang puan yang panjang, tebal dan halus.

“Ow dia cocok banget buat kamu Laras. Kamu harus jadi pacar dia,”perempuan itu sangat antusias saat Ricky berkunjung ke rumahnya.

Ricky, pria tambun berkulit hitam pekat tersebut datang membawa paket buah-buahan yang dia keluarkan dari dalam Honda Jazz. Remaja dengan wajah penuh jerawat itu merupakan teman sekelas Laras saat SMA. Dia sangat tergila-gila pada temannya yang berhidung mancung dan bermata besar itu. Segalanya dia lakukan, mengantar jemput Laras sekolah, bermain, les, bahkan tak menggerutu saat ibunya minta diantarkan ke tempat arisan. Ricky juga bukan tipe pria yang pelit untuk memenuhi segala kebutuhan bulanan perempuan yang dipujanya. Termasuk memfasilitasi kebutuhan kekasihnya untuk melakukan perawatan wajah dan tubuh.

Tangan Rio kini beralih ke wajah Laras. Bergerak dia membersihkan wajah perempuan berwajah tirus tersebut. Melukisnya dengan pelembab, alas bedak dan concealer.

“Tinggalkan Ricky, Niko lebih baik”suara perempuan setengah baya itu kembali menghantui.

“Tapi Ricky dah banyak bantu Laras ma, bantu kita”Laras mencoba mengingatkan ibunya.

“Jadi sekarang kamu bilang kalau kamu jatuh cinta pada anak jelek itu? Jangan bodoh Laras. Niko anak orang berpengaruh di kota ini”suara perempuan dewasa itu meninggi.

“Buka matanya mbak” suara Rio membangunkan Laras dari lamunan. Pria berbusana nyentrik itu pun memperhatikan riasan mata yang baru saja dia bentuk. Lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.

Kembali Laras memejamkan mata. Membayangkan saat dirinya terbangun dengan sudut mata dan pipi membiru. Cinderamata yang Niko tinggalkan setiap kali pria berbadan tegap itu emosi.

“Salah kamu sendiri ngobrol-ngobrol sama laki-laki lain. Jangan jadi perempuan murahan Laras. Memalukan.” suara tajam itu menghujam benak Laras.

“Dia cuman temen kuliah Laras ma, ngasih buku Laras yang ketinggalan di kelas,” Laras berkata dengan suara tersekat.

Termenung Laras menatap cermin di depannya. Menatap seorang perempuan dengan riasan wajah sempurna. Rio selalu melakukan tugasnya dengan baik. Dia pun segera mengenakan gaunnya, aksesoris, dan sepatu. Lalu berjalan ke luar ruangan menuju teras istana yang ditempatinya. Di sana mobil Jaguar menunggu, siap mengantarkan sang puan menuju tempat tujuan. Bergegas Laras duduk di bangku belakang, tersenyum ramah pada Alex sang supir. Lalu melanjutkan lamunan di sepanjang perjalanan.

Dia berlari sekuat tenaga, meninggalkan rumah dengan tangan kosong. Dirinya tidak perduli. Dia hanya ingin lari meninggalkan seluruh tekanan yang harus dihadapi.

Niko awalnya terlihat sebagai pemuda sopan berusia akhir 20-an dan berasal dari keluarga terpandang. Kharismanya bisa memikat semua orang di ruangan pesta. Namun tatapannya hanya tertuju pada Laras yang saat itu datang bersama Ricky.

Setelah itu semuanya terjadi begitu cepat. Termasuk perangai Niko yang berubah-ubah. Tidak hanya menyakiti fisik, tapi juga mental, dan seksual. Tapi setelah itu, dia bisa datang kembali dengan tatapan mengiba, menangis seolah penuh penyesalan, bahkan berlutut untuk meminta maaf. Lalu kembali meninggalkan tanda di tubuh Laras.

Tapi kali ini Laras tidak bisa lagi menahannya. Dan dia tahu benar bahwa keluarga bukan pihak yang akan melindunginya, namun menjerumuskannya semakin dalam.

“Hanya Putera yang bisa aku harapkan. Bawa aku pergi Putera, tolong bawa aku kemana saja kamu mau”pikir Laras saat itu.

Putera, pemuda yang sepenuh hati selalu mendengarkan Laras bercerita, menyediakan pundaknya untuk menjadi tempat bersandar, menguatkan gadis itu dengan genggaman tangan. Tubuhnya tegap dengan tinggi 180 cm, berkulit putih, bermata sipit, hidung mancung, dan bibir yang ranum bersemu merah muda. Dia kuliah satu jurusan dengan Laras dan bekerja paruh waktu di sebuah restoran cepat saji, untuk membiayai kuliahnya sendiri.

Tiba-tiba saja tubuh Laras tersentak ke depan. Alex menginjak rem dengan mendadak. Beruntung riasannya tidak rusak saat itu.

“Maaf nyonya, ada mobil menyalip tiba-tiba di depan”ujar Alex.

“Semuanya baik-baik saja Alex?”kata Laras.

“Ya nyonya,” Alex menjawab singkat lalu memajukan kembali roda kendaraannya.

Laras pun menyandarkan tubuhnya kembali ke bangku belakang. Mengambil botol air mineral di sampingnya, meneguknya, lalu memejamkan mata.

Terbayang tubuh perempuan paruh baya terbaring lemas di dipan rumah sakit. Pergelangan tangannya dibungkus perban, menyembunyikan urat nadi yang terkoyak akibat perbuatan nekatnya sendiri. Wajahnya pucat, bibirnya putih kebiruan dengan muka kusut seperti memakan separuh usianya.

Laras mendekati perempuan yang mulai menitikkan air mata saat melihatnya. Tidak ada kata yang terucap dari bibir Laras, hanya membisu dengan mata nanar.

“Maafkan mama nak, mama jahat sama kamu ya nak”kata perempuan tersebut berurai air mata.

Laras terdiam.

“Dulu mama marah sama kamu nak, menikahi lelaki tak berguna karena terlanjur hamil kamu. Lalu dia pergi begitu saja. Tapi mama salah ya nak, kamu gak bersalah ya nak, bukan salah anak perempuan mama,”tangis perempuan itu meledak ke seluruh ruangan.

Dua orang suster datang ke dalam kamar, menenangkan perempuan tersebut. Membawa Laras yang mulai histeris ke luar ruangan.

Laras membuka matanya. Mobil sudah melambat, tanda akan sampai. Sejenak dia melihat cermin, menyeka air matanya yang terlanjur menetes dengan hati-hati, agar tidak merusak hasil karya Rio. Perempuan itu menarik napas pelan-pelan, mencoba menenangkan diri, lalu menarik bibir cantiknya untuk menghasilkan senyum simpul. Senyum yang dapat mempesona semua kaum adam yang memandang.

Ban mobil berhenti tepat di sebelah karpet merah. Seorang pria membuka pintu mobilnya, lalu mengulurkan tangan untuk membantu sang puan berdiri. Laras menyambut tangan tersebut lalu mencium kedua pipinya.

Belasan orang berdiri di luar gedung nan megah. Menyambut dan memberikan rasa hormat pada Laras. Sejenak dia pun memandang gedung megah tersebut dari luar. Gedung baru milik suaminya yang akan diresmikan pagi itu.

Bagas Priandono. Nama belakangnya tidak asing didengar oleh siapapun warga negeri ini. Dia merupakan cucu salah satu keluarga konglomerat yang sudah tersohor sejak dulu.

Tidak, Bagas bukan orang yang sedang menyediakan lengannya untuk digandeng oleh Laras saat ini. Pria itu adalah Sakti, sahabat sekaligus mitra kerja Bagus. Bagi Laras, Sakti merupakan salah satu anggota keluarga yang sangat dekat dengan mereka berdua.

“Kamu sudah sarapan Laras?” tanya Sakti dengan suara lembut.

“Aku terlalu takut untuk terlambat mas,”Laras tersenyum penuh arti pada pria itu.

“Jaga kesehatan kamu, Nyonya Bagas gak boleh penyakitan” ujar Sakti tertawa. Laras pun ikut tertawa renyah sambil memamerkan deretan gigi putihnya yang rapih.

Mereka berdua menyusuri lobi, lalu bergerak menuju lorong perkantoran, kemudian sampai ke sebuah ruangan besar yang nyaman. Di sana pria berdada bidang membalikkan badannya, kemudian meraih tangan Laras dan menciumnya.

Bagas pria yang sangat sempurna bagi Laras. Dia bukan pria yang kasar dan sangat royal pada ibunya. Tipe idaman mertua yang kini bisa mendongakkan kepalanya saat bergaul dengan para sosialita di kota ini.

Matanya teduh, lembut dan mengayomi. Mungkin karena pria itu 20 tahun lebih tua dari dirinya. Tapi itu tidak masalah bagi Laras. Apalagi dia bukan tipe suami bawel yang mengekang kegiatan istrinya. Bagas sangat memperjuangkan Laras, bahkan di saat orang tuanya menentang keras pernikahannya karena mengetahui calon menantu mereka berasal dari keluarga tidak jelas.

Laras juga tidak memungkiri bahwa dirinya sangat menikmati fasilitas yang diberikan Bagas. Membeli label bukan sesuatu yang mengerutkan keningnya saat ini. Kartu kredit unlimited terpampang manis dalam dompetnya. Dia bisa pergi kemanapun ke seluruh tempat di penjuru bumi.

“Kamu cantik sekali Laras”kata Bagas.

“Makasih mas” Laras pun tersipu.

“Kamu siap sayang?”Bagas menatap istrinya.

Laras hanya tersenyum, menatap mata suaminya dengan pipi memerah dan senyum dikulum, lalu mengangguk pelan. Mereka pun berjalan bergandengan tangan menuju ballroom tempat acara dimulai. Tepuk tangan semua undangan langsung menyambut pasangan tersebut. Jabatan tangan berebut menghampiri hingga mereka berdua naik ke atas panggung. Lalu suasana pun berubah menjadi sunyi.

Senyum simpul tidak surut di bibir Laras. Matanya menyapu ke seluruh ruangan. Suasananya, sanjungannya, kemeriahannya, semua sempurna. Seperti mimpi yang selalu ibunya inginkan. Hanya tiga hal yang harus dipatuhi Laras.

Menutup telinga saat banyak suara-suara nyinyir mengarah padanya.

Menutup mulut saat Bagas jarang pulang ke rumah.

Menutup mata saat dirinya memergoki Bagas mencium bibir Sakti kemarin sore.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s