Uang Berselotip Merah

Brakk!
Tangan itu memukul meja yang ada di sebelahku dengan suara keras. Tersentak diriku, langsung melihat pelakunya. Dia adalah pemuda ceking dengan kulit hitam legam akibat banyak terbakar matahari. Matanya nanar dan jalannya terlihat sempoyongan.

Secara otomatis aku pun memindahkan tempat dudukku, menjauh dari pemuda yang ada di sebelah kiriku. Kupindahkan tas tangan yang sebelumnya ada di sebelah kiri ke sisi satunya. Wajahku langsung menunduk, namun mataku bergerak waspada.

Tidak banyak kata yang diucapkan oleh pemuda tersebut, hanya isyarat tangan seperti meminta kepada pemilik warung makan tegal yang berusia senja di depanku. Awalnya gerakan tangan tersebut diacuhkan. Namun dia langsung menghardik dan melotot, membuat pria tua itu terpaksa mengeluarkan sejumlah uang untuknya.

Sesaat dia menggerakkan badannya seolah akan berputar dan pergi. Namun gerakannya terhenti saat melihatku. Dia memang tidak meminta, namun rasa takut membuat tangan ini langsung meraih saku baju. Dengan setengah melempar, kuberikan uang sobek Rp 5.000 yang disambung dengan selotip merah kepadanya. Uang yang aku protes saat aku menerimanya sebagai kembalian ongkos kopaja. Tapi apa daya, sang kondektur berkelit tidak memiliki uang kembalian lainnya.

Pemuda itu pun langsung mengambil uang tersebut lalu berlari menjauh.
“Sampaaaaaah”ujar bapak tua pemilik warung sesaat setelah pemuda itu pergi.

“Memang biasa seperti itu pak?”ujarku sambil meraih gelas es teh manis untuk meredakan jantung yang berdebar.

“Gak ada, itu gak tau dari mana. Kampung sebelah mungkin,”kata bapak tersebut menjawab pertanyaanku.
Tak heran ada orang begitu di tempat seperti ini, pikirku. Tempat pemukiman padat di daerah Jakarta Utara. Apalagi warung ini sedikit terpisah dengan rumah-rumah lainnya karena terhalang lapak barang-barang rongsokan.

“Jadi kalau saya mau ke stasiun sebelah mana pak?”tanyaku.

“Oh jadi nanti mbak tinggal lurus saja, kalau ada gardu belok kiri, nanti dari situ tanya lagi aja,”ujar bapak tua tersebut.

Bola mataku pun langsung berputar mendengar perkataan itu.

“Bertanya lagi, ya ya ya, aku sudah melakukannya ratusan kali tadi,”kataku dalam hati.

Aku pun segera beranjak, meraih dompet dan mengeluarkan uang untuk segelas es teh manis yang kunikmati barusan. Lalu segera berbalik menyusuri gang sempit yang berliku.

Kupacu langkahku sambil mengutuk Doni, teman yang baru kutemui siang ini. Dialah yang memberiku informasi mengenai jalan pintas menuju stasiun. Jalan pintas yang membuat kaki ini melangkah lebih jauh dari seharusnya karena aku tersesat.

Tak disangka ternyata jalan pintas tersebut adalah sebuah kampung padat dengan banyak belokan tidak beraturan. Alhasil salah belok yang pertama pun akan menyebabkan aku tersesat sangat jauh.

Kakiku menyusuri jalan kecil dengan alas semen yang sudah rusak di sana sini. Kuperhatikan rumah-rumah yang aku lewati. Sebagian besar adalah rumah petak berukuran sekitar 3×3 meter atau bahkan 2×2 meter. Dasar rumah tersebut terbuat dari bahan permanen, sementara dindingnya sebagian besar dari kayu. Namun ada juga yang dibuat dari batu bata.

Hampir seluruh rumah tersebut bertingkat dua. Penghuni tingkat yang atas dan bawah, bisa berbeda keluarga. Biasanya model seperti itu ditandai dengan adanya tangga dari luar, langsung menuju ke pintu di tingkat dua.

Meskipun hanya berbentuk satu ruangan, isi rumah-rumah tersebut terbilang lumayan lengkap. Mulai dari lemari es sampai televisi terpampang di dalamnya. Kasur biasanya dipasang tanpa dipan, sehingga bisa ditempel ke dinding pada siang hari, memberikan ruang untuk kegiatan lainnya. Sementara kompor lebih banyak diletakkan di depan rumah.

Terbatasnya ruangan serta bentuk yang tidak permanen membuat sebagian besar rumah-rumah tersebut tidak memiliki kamar mandi. Alhasil bisnis toilet umum menjadi usaha yang cukup menguntungkan di wilayah ini. Biaya toilet pun dipatok Rp 1.000 sekali kunjungan, relatif lebih murah dibandingkan yang ada di terminal.

Sementara kegiatan mencuci baju biasanya dilakukan di satu tempat khusus yang dipakai bersama. Misalnya saja sebuah tempat yang dilengkapi sumur di samping kantor posyandu. Sumur tanpa dinding tinggi tersebut hanya dilengkapi ember dengan tali, tanpa katrol seperti yang biasanya terpasang.

Tempat cuci baju tersebut sebenarnya hanya sebuah lahan beralaskan semen dengan ukuran sekitar 2×3 meter. Di sana ibu-ibu berkumpul mencuci baju bersama. Air cucian mengalir menuju saluran buntu. Membiarkan air sabun menggenang, menunggu waktu hingga merembes ke dalam tanah, menimbulkan bau comberan yang menyengat.

Tak jarang aku membungkukan tubuh melewati rumah-rumah itu. Rasa segan menghampiri saat melewati banyaknya manusia yang berjejer di depan rumah-rumah tersebut.

Ruang yang sempit dan pengap membuat hampir seluruh penghuninya memilih menghabiskan waktu di depan rumah. Bapak-bapak berkaus kutang, ibu-ibu berdaster belel, semua menampilkan wajah santainya masing-masing, bahkan saat baru bangun tidur sekalipun.

Mereka saling bercengkerama dan melakukan sebagian kegiatan di depan rumah. Memang antara mengobrol di luar atau di dalam sama saja. Toh suara orang-orang di dalam rumah bisa terdengar keluar, meskipun dengan volume percakapan yang normal.

Setelah dua kali lagi bertanya arah jalan, telinga ini akhirnya mendengar suara laju kereta api listrik. “Akhirnya sampai juga” pikirku girang.

Peluh mengalir dari dahiku, hasil dari perjuangan melewati siang yang terik. Namun semuanya terbayar saat melihat loket kereta api yang ada di depanku.

Tiba-tiba saja langkah ini terhenti, terkejut melihat sosok yang baru datang di depanku. Tak disangka dia pun sama terkejutnya melihatku. Matanya melebar, mulutnya mengatup rapat, menahan napas. Dia pemuda yang kutemui di warung tegal.

“Waaan?”suara parau perempuan paruh baya membuyarkan kebekuan kami.
“Ya maak,”ujar pemuda tersebut menyahut.

Dia pun segera memalingkan muka, masuk ke dalam rumah dengan pintu terbuka yang ada di sampingku. Menemui perempuan yang terbaring di kasur.

“Kita berobat mak”kata pemuda tersebut.
“Dari mana uangnya?” perempuan itu balik bertanya sambil menatap sang pemuda.
“Ini” kata si pemuda, menyerahkan lembaran uang lecek yang diantaranya berselotip merah.(***)

Advertisements

2 thoughts on “Uang Berselotip Merah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s