Bahagia, Kita yang Buat

“Bahagia kita yang buat, tinggal apakah mau atau tidak”

Kesimpulan itu yang saya dapatkan setelah bertemu seorang wanita yang dikira seumuran, tapi ternyata dia 10 tahun lebih tua. Oh my, how pretty she is.

Awalnya saya merasa malu saat memintanya bertemu. Ini merupakan pertemuan kedua kami. Saya langsung berkata jujur, mau ngobrol dengan dia untuk riset dasar cerita bersambung (cerbung) yang akan saya buat. Dan cerbung itu tidak untuk dimuat di majalah, koran atau buku, melainkan hanya di blog pribadi yang baru saya mulai heu heu. Saya merasa takut dia berpikir pertemuan kemarin hanya membuang waktunya. Tapi dia terus menghibur saya, bahkan mengatakan merasa sangat terhormat bisa menjadi narasumber saya untuk tulisan itu.

Saya datang on time pukul 16.00, dan dia sebelumnya mengirimkan pesan meminta maaf karena akan terlambat. Sempat berpikir terlambat di sini berarti sekitar 30 menit lebih, tapi ternyata dia datang 15 menit lebih lambat dari waktu yang dijanjikan. Satu poin plus bagi saya karena ini menunjukan dia menghargai waktu dan juga saya yang menunggunya.

Lalu kami pun bercerita, ngobrol-ngobrol tentang profesi dia yang akan dijadikan bahan riset saya. Sampai akhirnya kami terpeleset untuk membicarakan masalah pribadi.

Sebenarnya sejak awal saya tidak berniat untuk menanyakan masalah pribadi dia. Di usia kepala tiga ini, saya banyak belajar bahwa tidak semua orang nyaman menceritakan masalah pribadinya pada orang lain. Bahkan untuk pertanyaan basa basi yang paling umum sekalipun. Lagipula jika orang itu akan bercerita biasanya dia akan berbicara sendiri tanpa ditanya.

Tapi sebuah kalimat pernyataannya menjebak mulut ini secara spontan bertanya mengenai masalah pribadinya. Dan saya cukup kaget tiba-tiba dia menceritakan sebagian kehidupan pribadinya pada saya begitu saja tanpa saya tanya-tanya lagi. Kenapa? Karena awalnya saya membaca dia bukan bukan orang yang bisa mudah bercerita pada orang lain (jangan tanya kenapa saya bisa membaca orang lain, saya tidak tahu pasti jawabannya, yang pasti bukan karena kemampuan mistis).

Dan dari situlah saya tau dia memiliki pilihan berbeda dalam hidup, serta kondisi yang berbeda dari orang kebanyakan. Mungkin salah satu alasan kenapa dia bercerita karena ekspresi muka saya yang tidak kaget saat dia menceritakan pilihan hidupnya. Well entahlah, saya cukup beruntung bisa bertemu orang-orang dengan pilihan hidup yang berbeda dengan orang kebanyakan. Jadi mendengar cerita dia, merasa tidak ada yang aneh, hanya saja kadang ingin tau cerita di balik pilihan itu untuk dijadikan bahan renungan saya *kebiasaan menganalisis sesuatu hahaha.

Lalu saya pun balik bercerita pada dia tentang kondisi saya yang juga berbeda dengan orang kebanyakan. Saya sangat senang dia memberikan semangat agar saya tetap bahagia dan tidak perlu mengkhawatirkan banyak hal. Karena bahagia bukan standar yang berlaku secara umum, melainkan kita yang pilih. Bahkan banyak orang yang memiliki kriteria kebahagiaan standar umum, pada kenyataannya tidak bahagia. Hmm…

Pikiran saya lalu teringat akan cerita-cerita nyata yang saya simak di sepanjang perjalanan hidup.

Dia muda, hanya ingin melakukan hal-hal yang orang lain anggap normal seperti kuliah dan memulai usaha. Namun harapannya berulang kali gagal karena keterbatasan fisik yang ia miliki. Jatuh, bangkit, berusaha, gagal, jatuh, bangkit, berusaha, gagal, jatuh, bangkit, berusaha, gagal. Apakah dia pernah menyerah? Tidak. Malah dia menguatkan orang yang sedih melihat perjalanan hidupnya.

Tapi ada dia yang juga muda, penuh potensi dan peluang. Namun dia memilih menjatuhkan diri dalam kemuraman. Aku tidak tahu alasannya, belum, dan mungkin tidak akan pernah tahu.

Ada orang yang memiliki pasangan jauh dari kondisi ideal dari standar orang kebanyakan. Namun dia dengan tulus menerimanya. Berusaha bahagia dan membahagiakannya. Sampai lebih dari 10 tahun pernikahan pun dia terus melakukan itu.

Tapi ada juga orang yang memiliki pasangan dan keluarga ideal berdasarkan standar orang kebanyakan. Setidaknya bagi saya, karena dia memiliki banyak hal yang tidak saya miliki. Tapi dia menyakiti pasangannya di usia lima tahun pernikahan mereka.

Namun lagi-lagi pengalaman membuat saya berpikir tidak berhak menentukan mana yang lebih baik dari mereka. Kenapa? Karena banyak sekali sesuatu yang tidak terlihat oleh mata saya. Bahkan saat saya melihat, mata pun seringkali menipu.

Jadi apakah kamu bahagia dengan hidup kamu? Apapun jawabannya cobalah untuk menentukannya tidak berdasarkan standar yang berlaku secara umum. Acuhkan semua standar itu, teruslah berjalan dan melakukan sesuatu yang berarti. Karena jika kisah hidup kita saja sudah berbeda, kenapa standarnya harus sama?

Kalau pengalaman pribadi, aku mencoba bahagia dengan mensyukuri apa yang aku miliki sekecil apapun. Mencoba lebih banyak melihat dunia yang heterogen dengan jeli. Melihat segala sesuatunya atau seseorang dengan sisi positif, bahkan yang masyarakat umum anggap paling buruk sekalipun. Tidak bisa total memang, setidaknya aku akan terus berusaha.

Tidak terasa enam jam sudah saya berbincang dengan perempuan cantik itu kemarin. Saya pun mengantarkan kepulangannya sampai ke mobil taksi yang dia tumpangi. Berpisah seperti sepasang sahabat yang sudah lama bertemu. (***)

Advertisements

2 thoughts on “Bahagia, Kita yang Buat

  1. Jadi apakah kamu bahagia dengan hidup kamu? Apapun jawabannya cobalah untuk menentukannya tidak berdasarkan standar yang berlaku secara umum. Acuhkan semua standar itu, teruslah berjalan dan melakukan sesuatu yang berarti. … #terima kasih sudah diingatkan kembali

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s