Perempuan Kereta

Suara khas yang menandakan keberangkatan kereta berbunyi. Dinda gelisah, bertanya dalam hati, mengapa lelaki tersebut belum datang? Jarum jam tangannya sudah menunjukan waktu 5.45.

“Apa dia berbeda gerbong? Tapi dia selalu menaiki gerbong 1,”pikiran Dinda berkecamuk. Dirinya sudah duduk manis di barisan bangku belakang gerbong 1.

Bel kereta kembali berbunyi. Kepala Dinda menengok ke kanan dan kiri. Mencoba mencari bayangannya, tapi suasana di luar stasiun nyaris kosong. Hanya beberapa petugas berseragam yang tersisa.

“Dia tidak datang,” pikir Dinda nyaris putus asa. Tangannya memegang erat ujung kain yang membungkus sebuah kotak. Napasnya berantakan, lehernya nyaris tidak bisa mengangkat kepalanya.

Di saat itulah sesosok bayangan bermantel coklat muncul dari belakang gerbong 1 dengan tergesa-gesa. Dia pun beranjak menuju barisan bangku depan, membuka mantel, berbungkuk, dan menyapa ramah petugas yang mendatanginya.

“Bangun terlambat pak Bintang?”tanya seorang petugas tersebut akrab.
Lelaki berusia akhir 20-an itu pun tertawa renyah. Lalu duduk di bangku ketiga dari depan.

Kereta melaju, namun mata Dinda belum bisa lepas dari sosok itu. Lelaki berambut klimis dengan tinggi 170 cm. Secara fisik, tidak ada yang menonjol dari dia. Namun sikapnya yang ramah dan senantiasa tulus membantu orang lain memancarkan kharisma yang berbeda. Bahkan masinis dan petugas kereta pun terlihat akrab dengannya, seperti teman yang sudah lama kenal. Seperti halnya Dinda, Bintang selalu pulang pergi Jakarta-Cirebon setiap akhir pekan.

Setahun sudah Dinda terperangkap dalam pesona pria tersebut. Namun dia hanya bisa memandangnya dari jauh. Mencoba puas dengan melihat senyumnya setiap Senin pagi dan Jumat malam. Lalu berpisah diam-diam di tengah ratusan penumpang kereta.

Dinda pun tersenyum, menghembuskan napas lega, lalu mencoba untuk memejamkan mata sepanjang perjalanan menuju Jakarta. Lamunan membawa pikirannya menuju kesibukan tak biasa di dini hari ini.

Suara lirih alarm berbunyi. Pukul 03.30 pagi. Dinda langsung terjaga dari tidurnya, beranjak lalu mengikat rambut ikal sebahunya ke atas.

Tidak ada kata malas bagi dara berusia 23 tahun tersebut untuk bangun di pagi buta. Sebaliknya dia sangat antusias menyambut hari Senin ini. Hari dimana dia memutuskan untuk membuat suatu langkah besar.

Dipakainya sandal tidur babi berwarna pink miliknya. Segera beranjak ke dapur, lalu membasuh mukanya dan mencuci tangan. Mengambil napas dalam, lalu menghembuskannya dengan pelan. Mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kencang.

“Mari kita mulai,”ujarnya sambil tersenyum.

Tangan lentiknya pun segera membuka tempat beras, menuangkan sebagian ke dalam wadah rice cooker lalu mencampurnya sedikit dengan beras ketan. Menunggu nasi matang, Dinda bergerak cepat membuka kulkas lalu mengambil salmon, sosis, telur, wortel dan brokoli.

Dia kemudian menaburi salmon dengan garam, menyisihkannya. Tangannya lalu mengocok telur, menuangkannya ke wajan berminyak panas, membalik dan mengangkatnya. Hal sama dilakukannya untuk sosis.

Tidak ada waktu untuk diam, dia langsung memotong wortel dan brokoli, menyiapkan air dalam panci kecil, lalu merebus sayuran tersebut hanya tiga menit. Setelah siap, Dinda langsung mengambil wadah khas bento, menata sayuran, sosis dan telur dengan cantik.

Bibirnya tidak berhenti tersenyum, angannya melayang ke sana kemari. Membayangkan mata abu-abu yang meneduhkan jiwa. Senyum manisnya yang mudah didapatkan. Wangi parfumnya. Tanpa terasa pipi Dinda pun memerah.

“Ah” perempuan bermata lebar itu pun langsung menepis pikirannya.

Dia bergerak memanggang salmon di atas penggorengan, lalu mengirisnya menjadi potongan kecil. Suara pelatuk rice cooker berbunyi, menandakan nasi telah matang. Dinda langsung memasukkan nasi panas ke dalam mangkok kecil, dan menyematkan salmon iris di tengahnya.

Dengan cekatan dia membasahi tangan, melumurinya dengan sedikit garam lalu mengepal nasi tersebut, membentuknya menjadi segitiga tebal. Dia mengulangi hal serupa dua kali, lalu menatanya bersama sosis, sayur dan telur. This is it, Onigiri Bento!

“Sudah jam 4 lebih Dinda, nanti telat loh,”suara ibu menyapa dari arah ruang makan.

“Ya bu” Dinda tersenyum, membungkus Bento dengan kain persegi. Persis seperti orang jepang membungkus bekal makanannya.

Dia teringat kebiasaan perempuan Jepang yang kerap menitipkan perasaan cintanya pada sekotak Bento. Setiap hari perempuan Jepang gemar membuat Bento sambil membayangkan wajah suami atau kekasihnya. Tak heran jika muncul istilah “Aisai Bento” yang artinya bekal buatan istri tercinta.

Dinda kemudian bergegas mandi, berpakaian, dan menata rambut kanan kirinya dengan jepit ke belakang. Make up tipis dengan cepat ia sematkan, lalu berkemas dan berangkat dari rumah tepat pukul lima pagi.

Sejak lulus kuliah, Dinda memutuskan untuk merajut mimpi dengan bekerja di Ibukota. Namun dia tidak bisa begitu saja meninggalkan ibunya yang tinggal sendirian di kampung halamannya di Cirebon. Alhasil hampir setiap akhir pekan Dinda bolak balik Jakarta-Cirebon menggunakan kereta.

Riuh penumpang memadati stasiun Cirebon di pagi hari itu. Kereta Argo Jati menunggu mereka yang ingin mengadu peruntungan di ibukota. Sebagian besar penumpang kereta eksekutif itu menggunakan baju kemeja, bawahan katun, dan sepatu pantofel.

Dinda pun merogoh tasnya, meraih tiket dan kartu identitas, lalu menyerahkannya pada petugas. Dia berjalan cepat menuju gerbong 1, tempat yang sudah dia pesan sejak sebulan lalu.

Petugas kereta menunggu hampir di setiap pintu masuk gerbong kereta, menyapa para penumpang dengan senyuman. Dinda bergerak mencari bangku ketiga dari belakang, menyimpan tas pakaian kecil di atas tempat duduk, lalu duduk, mengatur napas, dan memastikan bento yang dibawanya masih tertata rapih.

Tiga jam berlalu, suara lelaki di speaker mengatakan bahwa sebentar lagi kereta tiba si Stasiun Gambir. Dinda pun menegakkan duduknya, mengambil cermin dalam tas tangan lalu merapihkan penampilannya. Tidak lupa dia mengecek paket bento yang ada di pangkuannya.

Bersamaan dengan ratusan penumpang, Dinda bergerak keluar dari kereta. Mencoba menjaga jarak dengan Bintang, mengatur napas kembali. Lalu turun ke lantai dasar dengan menelusuri tangga.

“Kak Bintang” suara berat Dinda terdengar lantang.

Pria itu pun berbalik, bola matanya menyusuri seluruh ruangan dari arah kanan, lalu berhenti di sosok Dinda yang menatapnya dalam.

“Ya?”ujar pria tersebut sambil mengangkat kedua alisnya.

Dinda mencoba menahan pipinya yang mulai memerah. Menarik napas dalam kembali. Lalu tersenyum dan menghampiri Bintang lebih dekat.

“Apakah kakak terburu-buru?”kata Dinda.

Sejenak Bintang memalingkan bola matanya ke kiri atas, melihat jam tangannya. “Masih ada waktu 15 menit untuk minum kopi,”ujar pria tersebut tersenyum.

Dinda pun tersenyum simpul melihat mata pria tersebut yang bersinar indah. Lalu melanjutkan kalimatnya.

“Nama saya Adinda. Saya bekerja di Jakarta dan selalu menaiki kereta yang sama dengan kakak setiap pulang ke Cirebon,”ujar Dinda percaya diri.

Mata Bintang menatap gadis di depannya, telinganya mendengar setiap kata. Banyak pertanyaan yang terlontar di benaknya, namun bibirnya masih diam.

“Saya tahu perempuan biasanya tidak melakukan ini. Mungkin kakak akan berpikir saya aneh,” Dinda berhenti sejenak, menatap mata Bintang yang masih menyimaknya berbicara.

“Saya sudah setahun memperhatikan kakak. Setiap Senin pagi kakak selalu menaiki gerbong 1, menggunakan mantel coklat, dan tas kerja kulit. Kakak juga selalu membeli bento di minimarket setiap turun di Stasiun Gambir,”kata Dinda dengan suara lembut namun tegas.

“Oleh karena itulah aku membuat bento ini. Semoga kakak suka,”kata Dinda menyerahkan kotak berbungkus kain yang ia bawa.

Sejenak wajah Bintang membeku, matanya masih menyimak gadis yang ada di depannya, mulutnya sedikit terbuka menahan napasnya yang seolah berhenti. Udara hangat masuk ke dalam paru-parunya dan berputar sehingga penuh dan sesak, seketika itu juga tubuhnya dipenuhi aliran hormon endorfin yang membuat pipinya memerah.

Bintang pun tersenyum, lalu tertawa ramah, menunduk. Sejenak dia pun berhenti tertawa, seperti ingin berkata sesuatu, tapi gagal, lalu tertawa malu lagi.

Dinda menatap sikap lawan bicaranya, matanya nyaris tidak berkedip. Rasa sesak yang muncul didadanya sejak dini hari perlahan sirna. Lalu dia pun tertawa kecil bersama Bintang.

Butuh waktu lama bagi Bintang mencari untaian kata. Tapi dia tau perempuan di depannya tidak bisa menunggu lama.

“Terima kasih nona Adinda. Saya merasa sangat terhormat dan beruntung diperhatikan, bahkan dibuatkan bekal oleh perempuan secantik anda,”kata Bintang.

“Bahasa yang baku, ya ya ya. Itu yang aku dengar setiap dia berbicara dengan orang lain,”Dinda tersenyum sambil mengenang. Meskipun hidup di jaman milenium, namun ucapan Bintang seperti pemuda tahun 60-an. Sesuatu yang membuat Dinda selalu tertawa sendiri setiap mengingatnya.

“Masakan ini pasti enak, saya akan memakannya setelah sampai kantor,”kata lelaki itu sambil memegang erat bento berbungkus kain warna hijau tosca.

“Pria yang menikahi anda pasti beruntung memiliki istri yang cantik, berani dan pandai memasak. Sayangnya saya sudah menikah,”ujar Bintang. Dia pun berkata dengan hati-hati sambil melihat reaksi lawan bicaranya.

Awalnya tidak ada kata yang keluar dari mulut Dinda. Matanya sedikit melebar, lalu mengalihkan perhatiannya ke bawah. Dia mencoba menarik napas panjang, lalu menarik bibirnya untuk tersenyum, mengangkat dagunya dan menatap lawan bicaranya kembali.

“Begitu ya. Jadi saya terlambat? Apakah dia orang yang kakak temukan di kereta?” Dinda berkata lalu tertawa ramah. Mencoba mencairkan suasana.

Bintang pun merasa lega melihat reaksi Dinda. Dia pun ikut tertawa.

“Dia pacarku sejak SMA. Kami memang menikah muda empat tahun lalu. Tapi dia tetap tinggal di Cirebon, sementara saya bekerja di Jakarta. Jadi saya pulang setiap akhir pekan,”kata Bintang. Dia berhenti sebentar, lalu melanjutkan ceritanya.

“Tapi ini perjalanan kereta setiap akhir pekan saya yang terakhir,”ujar Bintang.

“Oya?” Dinda mengerutkan keningnya.

“Ya, istri saya memutuskan ikut pindah ke Jakarta karena sedang mengandung anak pertama kami,”kata Bintang tersipu sambil menundukkan kepalanya.

“Wah kakak pasti sangat senang,”Dinda mencoba tersenyum.

Sejenak suasana pun hening selama tiga detik.

“Terima kasih kak”ujar Dinda memecah keheningan.

“Ya?” Bintang kembali mengangkat kedua alisnya sambil mencondongkan wajah ke depan.

“Saat saya bercerita kepada teman-teman, saya akan memasak untuk kakak. Mereka semua melarang, karena khawatir kakak bisa saja orang yang jahat lalu menculik saya,”kata Dinda sambil tertawa.

Bintang pun mengangkat alisnya kembali, melirik ke kanan atas, lalu ikut tertawa.

“Tapi saya senang, ternyata orang yang saya pikirkan selama setahun ini adalah orang yang baik,”Dinda tersenyum.

Wajah Bintang pun memerah, dia tersenyum lalu menunduk malu.

“Saya juga merasa membuat keputusan yang tepat, mengobrol dengan kakak hari ini. Saya tidak bisa membayangkan jika minggu selanjutnya saya naik kereta lalu bingung karena tidak lagi melihat kakak. Saya lega sudah mengungkapkan perasaan saya,”ujar Dinda berkata dengan penuh percaya diri.

Bintang pun kembali menatap lawan bicaranya, lalu tersenyum ramah. Dentang jam di stasiun berbunyi. Waktu menunjukkan pukul 9 pagi.

“Ah waktu minum kopi sudah habis,”kata Dinda tersenyum.

Bintang pun ikut tersenyum. Lalu berkata dengan hati-hati. “Saya harus berangkat ke kantor sekarang. Terima kasih nona. Tetaplah bersemangat,”kata Bintang.

Dinda pun tersenyum, lalu mengangguk. Matanya terus menatap pria di depannya yang berbalik, lalu berjalan menjauh. Menatap punggungnya yang semakin lama mengecil lalu menghilang.

Lima hari kerja berlalu, memberikan waktu bagi Dinda untuk menata hatinya kembali. Meskipun tidak berakhir indah, Dinda tidak menyesali keputusannya. Dia merasa lega bisa mengungkapkan perasaannya secara langsung pada Bintang.

Jumat pukul lima sore, kereta Argo Jati menunggu warga Cirebon yang ingin pulang di Stasiun Gambir. Dinda pun mempercepat langkahnya setelah turun dari ojeg yang ditumpanginya dari perkantoran di kawasan Sudirman, Jakarta.

Sepatu datar mempercepat langkahnya untuk segera naik ke gerbong 1. Namun suara berat seorang pria memanggil, memaksanya untuk bebalik.

“Nona, apakah ini milik anda? Ini terjatuh saat anda turun dari kereta Senin lalu,”ujar pria tersebut sambil memberikan bros berbentuk kura-kura.

“Ah iya ini punyaku, terima kasih,”Dinda mengambil bros itu, memasukkannya ke dalam tas, lalu kembali melihat lawan bicaranya.

“Kakak mau ke Cirebon juga?”tanya Dinda.

“Iya” pria bermata cokelat besar itu pun mengangguk, lalu tersenyum. Kulitnya putih pucat, rambut lurusnya yang kecokelatan dibelah pinggir dan bergerak bebas ditiup angin.

Dinda membalas senyumannya, mengangguk lalu berbalik menuju gerbong. Namun langkahnya tiba-tiba berhenti, dia pun berpikir sejenak, lalu berbalik lagi.

Pria tersebut masih berada di tempat yang sama.

“Kakak gak sengaja nyari aku hari ini hanya untuk ngasih bros kan?” kata Dinda dengan suara lembut namun tegas, seperti biasanya.

Sejenak pria tersebut menahan napasnya, matanya melebar, namun pandangannya tak kuasa menatap perempuan yang ada di depannya. Hanya bisa tersenyum, sambil menahan perasaan aneh yang menjalar di pipi dan perutnya. (***)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s