Sang Badut

Badut

“Pakailah ini tuan, semoga bisa membuat anda tersenyum,”pesan itu tertulis di atas sebuah kotak berwarna hijau muda. Kotak yang diletakkan sang badut di bangku taman.

Badut, begitu orang lain menyebutnya. Dia berhidung bulat, berbibir merah, dan bermata lebar. Kepalanya selalu ditutupi sehelai kain yang menutupi rambutnya. Guratan wajahnya memiliki lengkungan yang membuat dia selalu terlihat tersenyum dan tertawa dalam kondisi apapun.

Banyak orang menjadi badut karena tuntutan ekonomi. Melakukannya dengan terpaksa, demi sesuap nasi. Tapi tidak dengannya. Dia melakukannya dengan sepenuh hati, untuk membuat orang lain di sekitarnya tersenyum atau bahkan tertawa.

Jiwa badutnya muncul sejak kecil. Dia anak terakhir di keluarganya. Hal itu membuat dia selalu dilindungi oleh seluruh anggota keluarga, bahkan terlalu dilindungi. Apalagi sang badut memiliki kakak hebat yang bisa dipercaya dan diandalkan dalam segala hal.

Kondisi itu membuat badut tumbuh jadi anak pemurung. Dia merasa tidak memiliki arti. Hingga akhirnya ibunya datang kepada dia dan berkata, “Untung kami memiliki kamu nak, seseorang yang selalu bisa membawa tawa di keluarga ini,”

Mungkin ibunya tidak pernah menyangka, jika kalimat itu terlampau dihayati oleh anak bungsunya tersebut. Sang badut pun tersenyum, dan merasa tercerahkan.

“Ya, aku ada di dunia untuk membuat orang lain tersenyum dan tertawa,”begitu pikir dia.

Tumbuhlah sang badut menjadi anak yang berusaha ceria. Dia tidak terlalu ambil pusing pada anak-anak lain yang sering mengejeknya. Bahkan saat dia dikucilkan pun, semangatnya tidak pernah redup. Dia tetap ceria dan tersenyum. Karena dia meyakini, takdirnya bukanlah menjadi seorang pemurung, melainkan untuk membuat orang lain tertawa.

Dia selalu bangun di pagi hari dengan semangat. Mengenakan kostumnya setiap dia berangkat dari rumah. Lalu berjalan keluar dengan langkah girang.

Dia bisa menyebarkan virus kebahagiaan begitu saja dengan keceriannya. Membuat orang lain secara tidak sadar tertular menjadi lebih bersemangat. Namun bisa juga dia mengamati kondisi sekitar, melihat apakah ada seorang pemurung yang membutuhkannya. Dia akan mendekatinya diam-diam, lalu mengeluarkan segala trik sulap untuk menghibur orang tersebut.

Sebagian besar dari usahanya berhasil. Badut merasa sangat bahagia. Dia merasa dibutuhkan. Perasaan itulah yang membuat dirinya bertahan hidup.

Sang badut tidak perduli jika orang lain melupakannya setelah itu. Dia tidak pernah berharap apapun dari mereka. Senyuman mereka merupakan upah terbesar bagi dia.

Seringkali orang tidak memperdulikan kehadirannya. Banyak orang yang menganggap dia adalah sosok yang memang seharusnya ada, dan terlewatkan begitu saja. Bukan sosok yang penting untuk diperhatikan, apalagi dibanggakan sebagai teman.

Namun, ada juga orang-orang yang menghargai keberadaannya. Mereka selalu datang pada si badut untuk dibuat tertawa, atau bahkan memberikan pelukan hangat.

Semakin dewasa, banyak orang yang bertanya kepada badut. Mengapa dia selalu tertawa? Bahkan di saat paling menyedihkan sekalipun. Beberapa orang menganggap dirinya tidak pernah serius untuk berusaha dalam mencapai keinginannya. Mungkin mereka khawatir jika sang badut terlalu terlena dalam kebahagiannya.

Tidak ada satupun yang tau bahwa badut diam-diam berusaha untuk hidupnya. Namun dia tidak terlalu suka untuk membagikan perjuangan dan kesedihannya pada orang lain. Dia lebih suka menjalaninya dengan wajah ceria, sehingga orang lain tidak perlu mencemaskannya. Dia berpikir bahwa membagikan kegusaran hati hanya membuat misinya untuk membuat orang lain bahagia menjadi gagal.

Sampai pada suatu hari, badut menemukan seorang pria di bangku taman. Dia pria muda dewasa yang selalu sendiri dan pemurung. Seperti biasa, badut pun mendekati diam-diam, menyapanya, lalu mengeluarkan berbagai trik sulap.

Awalnya pemuda tersebut tersenyum sedikit. Namun saat pandangan sang badut beralih sebentar, dia kembali murung. Badut pun mulai berpikir, “mungkin saya harus melakukannya lebih banyak”.

Lalu mulailah badut menghampiri dia lagi, menyanyikan lagu lagu ceria, menceritakan kisah kisah penuh canda, atau bergaya pantomim. Tak jarang dia membuat dirinya sendiri terlihat konyol di depan pemuda tersebut.

Hari demi hari ia lewati dengan berkunjung ke taman dan mencoba untuk menghibur sang pemuda. Tak jarang dia kehilangan waktu tidurnya di rumah, untuk memikirkan trik baru yang kira-kira bisa membuat pemuda tersebut tersenyum. Namun dia kembali gagal. Hanya sedikit tarikan bibir yang ada di wajah itu.

Pada suatu masa, pemuda tersebut tidak datang ke taman dalam kurun waktu lama. Sang badut mencari ke setiap sudut taman, tapi dia tidak menemukannya. Dia pun merasa kehilangan, lalu terdiam untuk beberapa saat.

Namun badut tetaplah badut. Wajahnya tidak berubah. Dia tetap tersenyum, dengan hidung bulat, dan mata yang besar. Lalu dia pun melanjutkan kembali hidupnya, meskipun sering bertanya dalam hati. “Apakah pemuda itu baik-baik saja?”.

Tahun berganti tahun. Kehidupan badut sedikit mengalami perubahan. Namun dia tetaplah sosok yang sama dengan mimpi yang sama, membuat orang di sekitarnya tertawa.

Sampai tidak sengaja sang badut berjalan melewati taman. Dia melihat pemuda itu kembali. Pemuda penyendiri yang berwajah murung. Namun saat ini wajahnya lebih segar dengan sedikit senyuman di bibirnya.

Sang badut begitu bahagia melihat pemuda itu. Dia menghampiri pemuda tersebut sambil melompat kegirangan. Menyapanya dengan senyuman dan mata besarnya. Sang pemuda tertawa kecil, lalu memegang tangan sang badut. Menyalaminya dengan erat.

Sang badut berpikir dia berhasil membuat pemuda itu tertawa. Dia pun berniat untuk mendatangi taman tersebut lagi, lalu mencoba untuk membuat tawa tersebut lebih lebar.

Niat itu dia lakukan keesokan harinya. Dia membawa berbagai macam trik sulap terbaru. Dengan langkah riang dia pun mendatangi taman di tengah kota itu.

Sang pemuda ada di sana. Namun wajahnya berubah, kembali menjadi muram. Badut pun panik dan mencoba untuk menghiburnya kembali. Tapi dia gagal.

Namun dia tidak menyerah. Esok harinya dia datang kembali, melakukan berbagai cara untuk membuat sang pemuda tersenyum. Masih dengan senyum dan wajah ceria yang sama. Tapi pemuda itu hanya diam, malah semakin murung. Begitu juga hari-hari selanjutnya.
Sang badut merasa frustasi. Dia pulang ke rumah lalu terus berpikir, apa yang seharusnya dia lakukan.

Esok harinya badut kembali ke taman, menemui pemuda tersebut. Masih dengan senyuman dan gurat ceria di wajahnya. Tapi tidak ada trik yang dia siapkan. Tidak juga dengan gerakan konyol. Dia hanya diam, lalu duduk di depan pemuda tersebut.

“Bolehkah aku tau, apa yang bisa membuatmu tersenyum tuan?”sang badut bertanya.

Pemuda itu diam.

“Apakah ada sesuatu yang bisa membuat perasaanmu lebih baik tuan?”sang badut kembali bertanya.

Namun pemuda tersebut kembali diam, bahkan memalingkan mukanya. Sang badut merasa frustasi. Tubuhnya bergetar menunjukkan kegusaran. Dengan tenaga yang tersisa dia pun kembali bertanya pada pemuda tersebut.

“Bolehkah saya tau, apa yang membuat tuan sedih?”

Seketika itu juga pemuda tersebut memandang tajam sang badut. Memicingkan matanya lalu berkata dengan nada suara keras.
“Kamu ingin tau apa yang membuat aku menjadi seperti ini? Kamu, jawabannya kamu!”kata pemuda tersebut.

Sang badut tersentak, badannya terdorong ke belakang, namun tertahan oleh senderan bangku taman.

“Kamu muncul di hadapanku dengan segala kenaifanmu. Kamu datang berkali-kali. Selalu ceria, meskipun aku mengacuhkanmu. Kamu, dan makhluk makhluk semacam kamu seolah menyindirku, yang memilih menjalani hidup dengan kemuraman. Seolah pilihanmu untuk terus tertawa adalah yang lebih baik dari pilihanku,”pemuda tersebut kembali menghardik sang badut.

Tidak ada kata-kata yang keluar dari sang badut. Bulir-bulir air mulai muncul di kedua matanya. Namun dia segera memalingkan wajahnya, agar sang pemuda tidak melihat air mata yang jatuh di pipi bulatnya.

“Kamu pikir kamu tau segala tentang dunia? Kamu pikir semuanya sama? Kamu terlalu naif! Kehadiranmu malah mendorongku ke jurang terdasar kemuraman,” pemuda itu kembali berkata pada makhluk yang ada di depannya.

Sang badut tidak tahan lagi. Dia pun langsung berlari, pulang ke rumahnya dengan napas terengah-engah.

Sampai di rumah, dia membuka tutup kepala dan juga kostum yang dikenakan. Lalu menghampiri cermin besar yang ada di depannya. Secara perlahan jari-jarinya menyusuri pelipis dan pinggir wajahnya. Membuka topeng dengan hati-hati. Topeng dengan gurat wajah ceria dan senyum yang lebar.

Sang badut melepas topeng tersebut secara perlahan, lalu menyimpannya di dalam sebuah kotak berwarna hijau muda. Dia lalu mengangkat dagunya, menunjukkan wajah asli yang sebenarnya dalam cermin.

Kerutan-kerutan nampak jelas di kening dan sudut matanya. Wajah tua yang lelah. Tidak ada mata besar yang memancarkan keceriaan, hanya cahaya yang nyaris redup. Tidak juga dengan guratan ceria di bibirnya, melainkan lengkungan ke bawah yang terlampau sulit untuk diangkat.

Buliran air mulai memenuhi matanya kembali, lalu semakin deras, dan semakin banyak. Tidak butuh waktu lama bagi dia untuk memenuhi wajahnya dengan air mata. Dia pun mulai meradang, berteriak pilu. Tangannya bergerak cepat mencakar rambutnya lalu menggaruk-garuk wajahnya. Menambah guratan-guratan yang sudah ada. Guratan yang dia buat di hari-hari sebelumnya.

Dia menjatuhkan tubuhnya ke pojok kamar lalu membenturkan kepalanya berulang kali ke tembok. Tangisnya semakin pecah menimbulkan suara mengerikan, seperti hantu perempuan yang kesepian.

Sang badut kecewa. Kecewa pada dirinya sendiri. Dia merasa tidak berguna. Tidak hanya gagal membuat tersenyum, namun ternyata dialah makhluk yang membuat pemuda itu jatuh.

Dia merasa tidak berarti lagi. Sang badut takut, kehadirannya malah membuat pemuda tersebut semakin terjatuh. Membuat dirinya semakin larut dalam kegagalan dan memiliki rasa bersalah yang besar. Hal itu akan Memberikan rasa yang menyiksa seumur hidupnya.

Badut pun berdiri, menatap cermin besarnya kembali sejenak, lalu mengalihkan pandangannya pada kotak hijau muda. Dia mengambil kotak itu, menuliskan pesan di atasnya, lalu membawanya keluar ke rumah.

Dia berlari menuju arah taman dan menyimpan kotak itu di bangku kayu. Tempat dimana pemuda tersebut menghabiskan waktu saat di taman.

Sang badut kemudian berjalan cepat, menyusuri trotoar di jalan raya. Dia menuju ke arah rel, lalu berdiri di atasnya. Menantang cahaya lampu kereta, yang datang dengan cepat ke arahnya.

Dia meninggalkan topeng badut tersebut, sebagai usaha terakhir untuk membuat sang pemuda tersenyum. (***)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s