Singapura Malaysia dari Kacamata Cahaya Temaram

‎Badan (yang terasa) remuk tidak menghalangi saya untuk menulis di blog ini. Entah kenapa saya terlalu rindu menulis di sini. Mungkin karena blog ini baru dibuat kurang dari sebulan. Jadi terasa seperti bulan madu gitu hahaha.

Pekan kemarin saya menghabiskan waktu dengan keluarga berjalan jalan ke dua negeri tetangga yaitu Singapura dan Malaysia. Ada banyak tempat yang saya kunjungi, dan saya yakin sudah banyak orang Indonesia yang mengunjungi tempat-tempat itu. Jadi saya tidak akan menulis tentang tempat wisata di sana. Melainkan apa yang saya lihat selama di Singapura dari kaca mata saya pribadi.

Apa yang dilakukan turis dari Indonesia di Singapura? Mungkin sama dengan yang saya lakukan kemarin seperti jalan-jalan di Orchad road, patung merlion, singapore flyer, universal studio, beli oleh-oleh di mustofa center, puas-puasin coba berbagai rute MRT, atau naik tur bis yang atapnya terbuka bersama dengan tuan dan nyonya londo. Atau ada juga yang ngiler setelah nonton film “Merry Riana” lalu penasaran mengunjungi Clarke Quay di malam hari (siap-siap rogoh dompet, harga makanannya mahal banget. Gak usah malu juga buat bawa bekal dan dimakan sambil ngebir di pinggir sungai, banyak yang ngelakuin ko).

Mungkin ada juga yang seperti saya, terbius dengan suasana harbourfront, tempat di mana saya bisa melihat pelabuhan yang disinggahi kapal pesiar, dihiasi pohon hijau serta lantai kayu. Suasananya membuat saya berkhayal seandainya tinggal di sekitar tempat itu, saya akan lari pagi dan menulis pada malam hari di sana, setiap hari.

Semua tempat itu menawarkan suasana yang megah, rapih, dan bersih. Saya cukup menikmatinya dan memuji segala kelebihannya. Namun seperti segala sesuatu yang ada di dunia ini, Singapura juga memiliki sisi gelapnya tersendiri. Misalnya saja saat saya tidak sengaja melewati “thieves market” di Sungei Road. Saya tidak tahu apakah barang yang dijual benar-benar curian, seperti julukannya, atau tidak, yang pasti tempat ini menjual berbagai macam barang loak.

Awalnya saya dan keluarga selesai membeli berbagai macam coklat dan keripik di Mustofa centre. Namun kami tersesat cukup jauh. Sebenarnya saya sangat menikmati momen nyasar tersebut, karena jadi bisa melihat lebih dekat budaya warga-warga di negara itu. Buat saya mengenal budaya orang-orang di tempat lain sama menariknya dengan berkunjung ke arena wisata di wilayah tersebut, bahkan bisa jadi lebih menarik.

Dari yang saya baca, tempat ini bisa dikatakan merupakan daerah “miskin” di Singapura. Saya melewati pecinan dengan rumah-rumah yang berjejer rapih tapi sangat rapat. Warga-warganya berkumpul di jalan sempit untuk melihat pertunjukan barongsai. Ingin rasanya ikut menonton juga dan mengobrol banyak dengan penduduk di sana. Namun saya urungkan, karena berjalan bersama rombongan yang sudah terlihat lelah.

Sampai akhirnya saya memasuki suatu jalan di pinggir sungai. Saya sempat menghentikan jalan sejenak, seperti membeku, saat memasuki jalan sepanjang 300 meter tersebut. “Apakah saya tadi masuk ke pintu kemana saja, dan sekarang sedang berada di Indonesia?”pikir otak saya yang usil.

Suasana jalan dengan lebar sekitar 10 meter tersebut sangat berantakan, dipenuhi oleh penjual emperan. Suasana di Sungei Road mirip seperti pasar kaget di Indonesia pada hari minggu, bahkan lebih berantakan. Para pedagang meletakkan begitu saja barang-barangnya di pinggir jalan, tanpa dirapihkan sedikit pun untuk lebih menarik pelanggan. Seringkali mereka hanya meletakkan koper terbuka yang penuh baju di jalan, untuk kemudian diaduk-aduk oleh pembeli. Begitu juga dengan kaligrafi Cina yang dibiarkan menumpuk begitu saja di dalam kardus. Hanya ada beberapa baju yang dijajakan menggunakan hanger lalu digantung pada pagar kawat di sepanjang jalan tersebut.

Tak jarang satu pedagang menjual berbagai jenis barang. Ada seorang pedagang yang menjual baju, sepatu, jam tangan, lukisan sampai penggorengan. Ada juga yang mengkhususkan diri menjual berbagai macam barang wanita, tapi ya tetap saja beraneka macam. Hampir semua etnis berkumpul di sini, tionghoa, india, melayu, dan arab.

Thieves market
Thieves market

Melihat jalan tersebut seperti membantu memberikan jawaban pertanyaan saya hari sebelumnya. Benarkah Singapura hanya terdiri dari kemewahan, kemegahan, kerapihan, dan juga kata sifat lainnya yang mempesona? Benarkah sistem pemerintahan ini bisa memberikan jaminan sosial bagi semua warganya? Negara seperti ini pasti merupakan magnet bagi para imigran. Dan tidak semua imigran memiliki kapasitas yang cukup untuk hidup nyaman di negara berbiaya super mahal itu. Saya jadi ingat cerita teman saya yang dulunya warga Tiongkok lalu jadi WNI karena menikah dengan orang Indonesia. Dia selalu ditanya-tanya panjang lebar oleh petugas imigrasi Singapura saat mengetahui perempuan itu lahir di tiongkok. Katanya orang tiongkok selalu dicurigai akan menjadi imigran gelap ketika masuk negara tersebut.

DSC_0185

Ingin rasanya tinggal lebih lama dan mengamati wilayah itu. Tapi rombongan sudah memanggil-manggil nama saya untuk segera pergi. Mungkin nanti saya akan ke sana lagi dan mengamati lebih banyak.

Bayi yang Bahagia
Sepanjang waktu berada di negeri singa dan putri duyung, saya jarang melihat bayi dan anak-anak kecuali di tempat wisata seperti Universal Studio. Itupun kebanyakan yang datang membawa anak adalah turis mancanegara. Saat di tempat umum seperti stasiun MRT, saya melihat anak kecil hanya sekitar satu di antara 300 orang. Begitu juga dengan ibu hamil, saya hanya melihat satu orang selama tiga hari berada di sana. Itupun saya menaksir usia sang ibu sangat matang, sekitar 35-40 tahun.

Tapi semua anak-anak kecil yang kebetulan saya temui memiliki raut wajah yang ceria. Saya belum melihat anak kecil yang merengek manja hanya karena ingin diperhatikan orang tua. Apalagi anak kecil yang tantrum teriak-teriak dan guling guling di jalan hehehe.

Mereka juga memiliki imajinasi yang cukup baik. Terlihat ceria sambil bercerita sendiri dengan bonekanya di perjalanan kereta. Orang tua pun cenderung berkata baik dengan anak-anaknya, tidak membentak, apalagi melakukan kekerasan fisik.

Saya lalu melakukan perbincangan dengan suami, mengapa anak-anak tersebut sangat bahagia. Ada beberapa pemikiran, seperti bisa jadi itu dipengaruhi suasana lingkungan yang memadai. Jalan tidak macet dan teratur, sehingga orang tua setelah bekerja bisa memiliki tenaga untuk bermain dan membimbing anak-anaknya belajar. Begitu juga dengan anak, bisa pergi sekolah tanpa melewati kemacetan yang bikin stres.

Warga di negara ini juga tidak perlu menguras emosi saat berebut naik transportasi umum, karena hampir semua orang memiliki kesadaran untuk mengantri. Fasilitas ruang terbuka hijau cukup banyak, sehingga anak-anak bisa berlari sambil melompat dan bermain di alam terbuka.

Bisa juga karena rata-rata usia orang tua di sana yang cukup matang untuk memiliki anak, sehingga cenderung siap secara emosional. Kondisi ibu yang bahagia saat mengandung juga tentu mempengaruhi karakter anak menjadi cenderung lebih ceria setelah lahir.

Saya juga menemukan artikel di http://www.buzzfeed.com yang menarik saat “browsing” di internet. Artikel tersebut menampilkan hasil survey dari Triennial International, sebuah organisasi untuk kerja sama ekonomi dan pembangunan. Berdasarkan artikel tersebut, Singapura menempati posisi pertama dari negara-negara di dunia yang memiliki tingkat kebahagian anak-anak tertinggi sekaligus memiliki nilai tes terbaik.

http://www.buzzfeed.com/jakel11/where-in-the-world-you-can-find-the-best-schools-and-the-hap#.ejaVZe1Ymp

Berita baiknya, Indonesia bahkan menempati posisi pertama dari 64 negara yang anak-anaknya hidup bahagia. Horeee….Namun juga negara kedua terakhir setelah Peru yang nilai tesnya paling rendah. Errr…

mobile-4600-1389758006-10

Pemukiman Utara yang Dinamis
Setuju gak sih kalau saya bilang tata kota jantung negara Singapura minim perubahan dari tahun ke tahun? Selain sudah padat, tata kota negera itu juga memang sudah dibuat sesuai kebutuhannya dengan rencana matang, jadi rasanya gak perlu diotak atik lagi.

Namun lain halnya dengan bagian utara negara tersebut. Saat itu saya akan bergerak menuju perbatasan Malaysia lalu naik MRT menuju woodlands. Ternyata MRT di daerah utara tidak berada di dalam tanah melainkan di atas jembatan. Alhasil saya bisa bebas melihat pemandangan sekitar.

Dari situlah saya melihat bagian Singapura yang berbeda dari sebelumnya. Tanah merah masih banyak terhampar, danau yang besar, serta kumpulan pohon hijau di sepanjang perjalanan. Wilayah ini sebagian besar ditempati apartemen-apartemen kelas menengah maupun bawah. Jajaran mobil juga terparkir di depan apartemen itu, begitu juga sepeda-sepeda yang tertata rapih.

Banyak pembangunan gedung-gedung baru di sini. Pembangunan dilakukan sekaligus di satu area. Menurut saya lebih baik seperti itu sih jadi teratur. Tidak menclak menclok lalu diselingi rumah kumuh.

DSC_0216

Di sini saya melihat kehidupan serasa lebih dinamis. Saya membayangkan banyak keluarga muda yang bermukim di wilayah ini. Jarak menuju stasiun lumayan jauh bila dibandingkan dengan di pusat kota. Mereka mungkin tidak bisa langsung berjalan kaki dari rumah menuju stasiun. Begitu juga jarak antara stasiun satu dengan lainnya lebih renggang. Tapi dari berita yang saya baca di koran lokal Singapura saat itu, pemerintahannya berencana untuk menambah jalur MRT baru yang pembangunannya akan dimulai tahun depan sampai 2030.

Kebetulan saya datang menjelang hari kemerdekaan Singapura ke-50 yang jatuh pada 9 Agustus. Para warga pun menyambutnya dengan menempelkan bendera negara itu di masing-masing teras apartemen. Bagaimana dengan di Indonesia? Rasanya yang memasang bendera sudah berkurang ya dibandingkan waktu saya kecil dulu.

Mendekati daerah perbatasan di woodlands, suasana berubah menjadi macet. Lah kok Singapura macet? Entahlah, mungkin karena kendaraan-kendaraan itu harus melewati proses imigrasi sehingga tersendat. Atau bisa juga karena saat itu sedang long weekend bagi negara Singapura sehingga banyak yang berniat main ke Johor Baru untuk mengunjungi Legoland atau tempat wisata lainnya.

Namun ternyata cukup banyak warga Singapura-Malaysia yang melintasi perbatasan setiap harinya. Bagi mereka mungkin itu hanya seperti perjalanan Jakarta-Bogor.

Dari hasil pengamatan dan ngobrol-ngobrol dengan warga Singapura di perbatasan, saya pun mendapatkan informasi kalau mereka kerap melintasi antar negara karena pekerjaan atau rekreasi. Bahkan ada yang mengaku kalau mereka pergi ke Johor Baru untuk sekedar membeli bensin, sebab harganya jauh lebih murah. Tak heran di perbatasan, terdapat plang yang memberitahukan kalau parameter bahan bakar kendaraan harus penuh atau minimal 3/4 nya lah saat melintasi perbatasan Malaysia. Mungkin memperingatkan warganya supaya tetap beli bahan bakar dalam negeri.

Ada juga warga Singapura yang ke Johor Baru untuk kuliner di negara tetangga. Memang buat saya, kuliner di Johor Baru jauh lebih enak, variatif dan murah dibandingkan di Singapura. Pulangnya warga Singapura itu biasanya sengaja membeli belanja bulanan yang lagi lagi bisa didapatkan dengan harga yang jauh lebih murah.

Saya pun sempat kecipratan merasa jadi orang kaya saat pertama kali menginjakkan kaki di Johor Baru dari Singapura. Setelah seringkali mengerutkan kening hanya untuk membeli makanan di Singapura, melihat harga-harga di Johor Baru terasa sangat murah sekali. Akhirnya saya memuaskan perut saya dengan membeli berbagai macam kuliner dengan hati senang. Padahal sebenarnya sebagian besar harganya sama saja dengan di Jakarta.

Kereta Api dan Bau Kaki
Awalnya kami hanya ingin berkunjung di Singapura. Namun rencana perjalanan berubah karena saya sangat penasaran untuk mencoba sleep train dari Johor Baru menuju Kuala Lumpur Malaysia. Alhasil saya dan rombongan menyempatkan diri untuk mengunjungi negeri para datuk ini.

Sebelumnya sleep train ini ada yang tersambung dari Singapura menuju Malaysia. Namun sejak 1 Juli 2015 jalur tersebut dihapus. Kami harus bergerak dulu ke perbatasan yang ada di Woodland Singapura, menyerang jembatan perbatasan dengan melewati dua gerbang imigrasi untuk sampai ke Johor Baru Malaysia.

Membeli tiket sleep train di woodlands jauh lebih mahal dibandingkan dengan di Johor Baru. Nominal angkanya sih sama saja, hanya yang satu menggunakan mata uang dolar Singapura, satu lagi menggunakan Ringgit Malaysia. Misal harga di woodlands 5 dolar Sg, di Johor Baru harganya 5 RM. Sementara untuk kurs saat ini, Dolar Sg nilainya hampir tiga kali lipat dibandingkan RM.

Setelah berbagai perjuangan yang kami lewati untuk melewati perbatasan (dan membeli sepatu lucu nan murah di Johor Baru), saya pun akhirnya merasakan juga yang namanya sleep train. Kereta tersebut memiliki jadwal keberangkatan dari Johor Baru 22.30 dan tiba di Kuala Lumpur 07.00. Waktunya hampir sama dengan perjalanan kereta Jakarta-Yogyakarta. Tapi secara harga, menurut saya tiketnya lebih murah.

Seperti namanya, kereta ini dalam gerbongnya tidak terdiri dari kursi melainkan tempat tidur bertingkat dua yang berjajar di kanan kiri. Bisa saja kamu memilih kelas satu yang berada di satu ruangan khusus untuk dua orang lengkap dengan toilet pribadi. Tapi karena jumlah rombongan kami ganjil, berarti akan ada satu orang yang terpisah. Dan gak seru juga sih pisah-pisah saat pergi bersama.

Jadilah kami memilih gerbong kelas dua. Setelah menyimpan dan merapikan barangnya di tempat tidurnya masing-masing. Para penumpang pun segera masuk ke dalam tempat tidurnya yang masing-masing bisa ditutup dengan tirai. Otomatis para penumpang akan membuka sepatunya, dan seperti yang sudah bisa ditebak, bau kaki pun menyebar di seluruh gerbong wakakakakakakak.

Oke oke hiraukan bau kaki itu. Satu yang menarik dari kereta ini adalah banyaknya backpacker dari berbagai etnis. Buat kamu yang backpackeran sendirian pun tidak perlu khawatir karena di sini bisa menemukan banyak teman baru. Misalnya saja si bule Belanda yang tidur di sebelah bilik saya. Dia mengeluh karena tempat tidurnya kurang panjang untuk ukurannya yang jangkung, tapi katanya sih mendingan daripada yang di India. Selain lebih pendek, bertingkat tiga lagi.

Tapi setelah kereta berjalan, setiap orang langsung menutup tirainya masing-masing. Ada yang tidur mengorok sampai terdengar ke bilik tetangga, membaca buku dengan menyalakan lampu di dalam bilik, atau ada juga yang seperti saya mengamati pemandangan sekitar dari jendela. Dan saya cukup terkesan karena tidak melihat satu pun pemukiman kumuh di pinggir rel kereta.

Menggunakan sleep train juga merupakan ide yang bagus untuk menghemat biaya perjalanan. Kamu bisa mendapatkan transportasi sekaligus tempat menginap yang lumayan. Rasanya seperti bayi yang tidur dalam ayunan lah.

Saya hanya sebentar di Malaysia. Negara ini memiliki transportasi yang cukup baik. Namun rasanya trauma untuk kembali lagi jika mengingat toilet umumnya yang mengerikan, entah itu di stasiun maupun mall. Hanya di bandara saya dapat toilet umum yang agak mending. Sorry Malaysian. Peace.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s