Cantik (part 1)

‎”Jadi anda mahu kecantikanku? Anda sudah bersedia dengan akibatnya?”

Suara perempuan berlogat melayu itu mendesis tajam. Entah dari mana munculnya, tiba-tiba saja dia sudah memotong jalan di depanku. Dia lalu berbicara kepadaku dan menusuk hatiku dengan tatapannya.

“A..apa maksud kamu” ujarku sambil mencoba tertawa.

Tentu saja aku ingin kecantikannya. Itu impian semua perempuan. Lalu kenapa?

“Pegang tangan saya, lihat mata saya” perempuan itu berkata cepat. Tangannya meraih tanganku. Seketika semuanya terasa aneh, lalu aku pun seperti ingin tertidur.

Tubuhku langsung tersentak, membuka mata, lalu terduduk. Kulihat ruangan di sekitarku, terasa familiar. Dinding bercat putih dihiasi gambar pelabuhan, seprai berwarna biru laut, dan tirai biru awan. Ya, ini kamarku sendiri. Ternyata hanya mimpi. Kulihat jam di sebelah tempat tidurku, pukul 08.08 pagi.

Tidak, aku terlambat. Aku pun segera melompat keluar dari tempat tidur, bergegas ke kamar mandi, memakai baju kerjaku, mengambil tas, lalu berlari ke arah stasiun.

Dari mana aku tadi malam? Aku mencoba mengingatnya sepanjang perjalanan menggunakan MRT.

Seingatku tadi malam, aku bertemu dengan tiga sahabatku Hilal, Fajar, dan Aurora di sebuah sebuah bar di pinggir Sungai Clarke Quay. Kami berempat sangat akrab, terutama karena sama-sama orang Indonesia yang bekerja di Singapura.

Bunyi telepon membuyarkan lamunanku.

“Biaaaa akhirnya!” lengkingan suara Aurora terdengar begitu aku mengangkat telepon.

“Tadi malam kamu kemana? Kita nyari kamu Bia. Ditelepon gak aktif, email gak balas. Hilal berulang kali nanyain kamu. Dia memintaku menelepon,” cerocosnya.

“Eh, mungkin aku mabuk. Hmm aku juga gak tau sih. Hei maaf ya membuat kalian khawatir, aku ga apa apa kok. Ini lagi di MRT mau ke hotel,”kataku sambil terkekeh.

“Aargh kau ini. Oke dear, awas telat, see you. Bye,”kata Aurora.

“Bye,”ucapku singkat sambil menutup telepon.

Lalu kulihat telepon genggamku. Lima belas kali miss call dari Hilal, 6 kali dari Aurora, dan 3 kali dari Fajar. Belum lagi beberapa pesan yang menanyakan keberadaanku. Hmm, sepertinya aku membuat panik banyak orang tadi malam.

Turun dari MRT aku pun segera berlari menuju hotel bintang lima tempatku bekerja di kawasan Orchad Road. Entah mengapa kondisi tubuhku terasa lebih kuat dari biasanya. Napasku tidak tersengal-sengal saat terus berlari memasuki basement tempat ruang karyawan berada. Padahal sebelumnya aku seringkali kepayahan hanya karena menaiki satu tangga.

Berbeda dengan penampakan hotel dari luar yang dihias dengan berbagai furniture indah, basement hotel sangat monoton layaknya sebuah pabrik. Ruangannya terdiri dari lorong panjang bercat putih tanpa hiasan dinding apapun. Pintu-pintu berwarna krem terletak di sebelah kanan dan kiri lorong, mengarah pada berbagai tempat seperti ruang laundry, dapur, ruangan pendingin raksasa, gudang makanan, gudang keperluan house keeping, tempat makan karyawan, serta ruang ganti baju karyawan.

Setelah menempelkan sidik jari di mesin absen. Aku pun segera berlari menuju ujung lorong tempat ruang ganti baju karyawan berada. Di sini setiap karyawan memiliki lokernya masing-masing. Dengan terburu-buru kubuka loker tempat aku menggantung baju kerja dan menyimpan semua peralatan.

Ah untung aku menyempatkan diri menyetrikanya sebelum pulang kemarin. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk menggunakan kemeja putih serta rok dan blazer hitam tersebut. Kusematkan pin nama di dada kanan lalu memakai stocking hitam dengan hati-hati. Terakhir tentu saja sepatu berhak 5 cm warna hitam yang menjadi salah satu item wajib bagi pegawai hotel perempuan.

Merupakan sebuah keharusan bagi setiap karyawan hotel untuk tampil rapih dan menarik. Baju yang kusut sekecil apapun merupakan hal yang tabu. Begitu juga sepatu, wajib mengkilap tanpa debu. Setiap karyawan perempuan wajib mencepol rambutnya atau memotongnya sebatas telinga sehingga terlihat profesional dan tidak menggangu pekerjaan.

Aku pun mengambil tempat make up, dan penjepit rambut lalu beralih ke kaca besar yang ada di salah satu dinding ruangan. Di sini tempat setiap karyawan berias diri dan memeriksa penampilannya.

Termenung aku saat melihat wajahku hari ini untuk pertama kalinya di cermin. Terasa ada yang berbeda. Kulit sawo matang yang biasanya kusam dan kasar, terlihat menjadi cerah, lembut dan kenyal. Bekas jerawat dan pori-pori besar seperti kulit jeruk kini tersamarkan. Tulang pipi nampak lebih menonjol membentuk wajah yang tirus. Mata hitamku yang biasanya kuyu menjadi lebih segar dan bersinar. Begitu juga dengan bibir tebalku terlihat lebih ranum.

Tanganku pun memegang lengan dan perut. Terasa lebih kencang tanpa gelambir lemak yang biasanya menghantui.

“Apakah ini aku?”pikirku.

“Biaa, briefingnya sudah mau mulai tuh. Ayo,”suara Aurora mengangetkanku. Sudah menjadi rutinitas di hotel tempat kami bekerja untuk melakukan briefing selama 10 menit setiap hari.

Aku dan Aurora memang bekerja di hotel yang sama. Hanya berbeda posisi. Sebelumnya kami sama-sama bekerja di bagian front office. Namun belum lama ini Aurora mendapatkan promosi menjadi Public Relation Manager.

Dengan terburu-buru aku pun memoles make up, menggulung rambut, menyimpan peralatannya di locker, lalu berjalan cepat bersama Aurora menuju ruang briefing.

“Ciao, you look pretty today (Halo, kamu terlihat cantik hari ini),”bisikan Marco mengangetkanku setelah briefing pagi. Dia bule Italia, salah satu manajer di hotel. Sekaligus piala bergilir karyawan-karyawan perempuan.

“Thanks” ujarku singkat. Aku pun tersenyum sebentar lalu langsung berbalik. Tumben dia melirikku, apa sudah kehabisan korban?

Di depan pintu, Aurora sudah mencegatku dengan sebuah kantong berisi kotak makanan.

“Ini sandwich dari Hilal. Dia masak buat kita berdua,” kata dia.

“Asiik pasti enak,”kataku.

Tentu saja enak, Hilal bekerja sebagai asisten chef pada salah satu restaurant fine dining di pusat kota. Fajar juga bekerja di tempat yang sama, namun dia di berada di divisi food and beverage. Diam-diam kuambil telepon genggamku untuk mengirimkan email pada Hilal.

“Hei, thx alot sandwichnya. Soriiii kemarin bikin khawatir. Jadi kapan temenin aku beli iphone?” lalu dikirim.

Balasan langsung datang.

“Dimakan ya, kamu pasti kesiangan. Aku baru libur Kamis. Bisa?”

Kamis, berarti lima hari lagi ya.

“Ok” balasku singkat.

Pikiran mengenai kejadian tadi malam masih memenuhi benakku saat pulang menggunakan MRT. Kucoba mengingatnya kembali.

Waktu itu ketika mengobrol dengan teman-teman, aku pamit untuk pergi ke toilet. Lalu aku…ah aku ingat, tiba-tiba aku melihat perempuan cantik.

Saking cantiknya aku sampai melihat ke arahnya dua kali saat pandangan pertama. Kecantikannya membuat perempuan normal seperti aku saja terpesona, apalagi pria. Tapi entah kenapa dia langsung melihat ke arahku juga. Tak lama kemudian setelah aku keluar toilet, dia tiba-tiba muncul di depanku. Berbicara padaku dan semuanya menjadi gelap. Aku lupa.

Siapa dia? Apa yang dia lakukan padaku?

Sepanjang malam aku habiskan untuk mengingat obrolan itu. Namun aku sulit mengingat seluruhnya. Malamnya aku pun bermimpi mengenai sosok perempuan itu, dia mengejarku dan menusukku dari belakang.

Pagi tiba dengan sinar matahari terik masuk ke jendela kamarku. Aku kembali terpaku menatap cermin. Menatap bayangan yang membuatku tercengang sendiri melihatnya.

Sosok itu memiliki rambut hitam sepundak yang lembut dan berkilau. Kulit wajahnya semakin halus bak porselen. Tubuhnya terlihat kencang proporsional dengan tingginya yang mencapai 167 cm. Kulit yang bersih dan bersinar menghiasi penampilannya. Giginya putih berjejer rapih. Membuat senyumannya sangat mempesona.

Itu memang aku, namun aku yang lebih cantik dari biasanya.

Pagi itu tak kusentuh sama sekali selai coklat yang ada di meja makan miniku. Rasanya tak selera. Aku hanya ingin makan roti gandum tanpa campuran apapun. Kulihat taman hijau di luar apartemen melalui jendela. Aku ingin lari, ya aku merasa bersemangat untuk berolah raga.

Tiba-tiba saja diri ini menjadi pusat perhatian di mana pun berjalan. Mereka semua melihatku. Ada seorang lelaki dewasa yang menatapku tanpa berkedip, anak lelaki remaja yang membuka mulutnya sambil mengikuti arah aku berjalan, pria tua yang langsung menunduk malu saat aku memergoki dia melihatku, juga seorang perempuan yang berjalan di depanku lalu menabrak orang lain karena matanya tidak bisa lepas dariku.

Tentu saja aku tidak terbiasa mendapatkan semua perhatian itu. Sejak kecil aku bukan perempuan populer di sekolah karena kecantikanku. Bukan orang yang menjadi pusat perhatian di suatu ruangan. Sering aku iri dengan mereka yang mendapatkannya. Aku pun mulai melatih diri untuk bisa bersosialisasi dengan menyenangkan, sehingga bisa memiliki banyak teman. Setidaknya aku memiliki sesuatu yang dapat kubanggakan.

Tapi sekarang, semua orang memperhatikanku pada pandangan pertama. Apakah itu karena kecantikanku, atau perasaan aku saja? Tiba-tiba semakin banyak orang dengan ramah tersenyum padaku, mempersilahkan aku duduk di kursinya, atau membukakan pintu. Terus begitu setiap harinya.

Semua menuju puncaknya sampai ada seorang pria beretnis tionghoa dan berkaca mata eksentrik menyapa aku. Dia merupakan seorang tamu yang menyewa ruang meeting di hotel tempatku bekerja. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, nyaris tanpa otot, cenderung gemulai dengan baju yang nyentrik.

“Hey, may I know your name? Do you work here? (Hei, boleh aku tau namamu? Anda bekerja di sini?)” ujar dia.

“Sure, my name is Bintang Kejora, call me Bia. May I help you? (Tentu. Namaku Bintang Kejora, panggil aku Bia. Ada yang bisa aku bantu?)”ujarku.

“No no, it’s not about the hotel. Listen to me, I am Theo a fashion stylish for Harper’s Bazaar (Tidak tidak, ini bukan tentang hotel. Dengar, aku Theo, pengarah gaya di majalah Harper’s Bazaar),” dia berbicara sambil mendongakkan dagunya dan mengangkat kedua alisnya. Kepalanya bergoyang kanan dan kiri.

“Our next month magazine theme will be about career women, who are active but still beautiful. And we don’t want her to be model, she must be a real career women. Do you understand what I mean? (Tema majalah kami bulan depan akan mengangkat tentang wanita karier yang aktif namun tetap cantik. Tapi kami tidak ingin fotonya seorang model, dia harus benar-benar seorang wanita karier. Kamu mengerti maksudku?)” ujar dia sambil menatap wajahku dalam.

“Yes sir (ya tuan)”ujarku cepat.

“Siirrr (tuan)?!?”dia meninggikan nada suaranya.

“I’m sorry, err yes mam (Maafkan saya, err ya nyonya)”ujarku dengan hati-hati.

“Actually we have found her since last month and she’d agreed to have a photoshoot tomorrow. But, I just heard that she just had a nasty accident. The deadline is tomorrow and I need to find an immediate replacement, or else… (Sebenarnya kami telah menemukan modelnya sejak bulan lalu. Dia setuju untuk mengikuti pemotretan besok. Tapi aku baru saja mendengar dia kecelakaan yang cukup parah. Padahal deadlinenya besok dan kami harus segera menemukan penggantinya, atau….)” dia menghentikan obrolannya.

“Or else? (atau?) “aku coba memahami setiap perkataannya.

“Or my big bad boss will kick my cute little ass to the street (atau bosku akan menendang pantat imutku ke jalanan)” ujar dia dengan suara memekik.

Aku hanya diam. Menahan napas.

“You actually look kinda hot, why don’t you come to the photoshoot tomorrow? This is my card. Come at 10 AM sharp and don’t you try come up late. There were women out there who would killed each other for an opportunity like you have now little missy. (Kelihatannya kamu oke, kenapa kamu nggak mengikuti pemotretannya besok? Ini kartu namaku. Datang pukul 10 pagi dan jangan pernah coba terlambat. Banyak wanita yang bersedia saling membunuh untuk mendapatkan posisimu nona),” dia memberikanku kartu.

Mulutku tiba-tiba menganga, mataku membesar. Aku tidak bisa menahan sesak napas.

“I.. I think you’ve made a mistake sir err mam… or maybe… (Saya.. saya rasa kamu membuat kesalahan tuan err nyonya…mungkin..)”tuturku salah tingkah.

“Yes or No (Ya atau Tidak)??!!”dia memotong ucapanku dengan suara tegas dan menatapku tajam.

Tidak bisa kutahan rona merah di pipiku. Kucoba mengendalikan emosi bahagia yang ada dalam dada. Rasanya ingin terbang.

“Allright, I’ll come tomorrow. I’m on my day off afterall. (Baik, aku akan datang kamis besok. Kebetulan aku libur)” aku mengangguk

Dia pun langsung mendongakkan lehernya, berdiri, lalu pergi ke luar pintu tanpa berkata apapun. Meninggalkan aku yang terpaku melihat dia pergi dengan menahan napas, memastikan bahwa dia benar-benar menghilang, lalu berteriak kegirangan.

Segera kuambil telepon selularku. Menulis email, lalu mengirimnya pada Hilal.

“Jalan-jalan besok batal. Aku harus pemotretan!”pesanku.

Semua terjadi begitu cepat. Esoknya aku sudah berada di redaksi majalah itu, dibuat semakin cantik oleh penata rias profesional, menggunakan baju bermerek yang sangat sophisticated. Theo nampak sibuk memastikan baju yang dia pilih pas di tubuhku.

Kudengar Theo banyak berteriak padaku. Dia nampak gemas melihat poseku yang kaku. Tapi aku tidak merasa terpukul oleh sikap judesnya. Aku terus tersenyum saat itu. Ini semua terasa mimpi. Mimpi yang terlampau indah.

“Finally!! Good job honey!! My head almost exploded when you started. But you finally nailed it!!! You’re a quick learner little missy (Akhirnya!! Kerja yang bagus sayang. Kepalaku rasanya ingin meledak melihatmu di awal. Namun akhirnya kamu berhasil menemukan caranya. Kamu cepat belajar nona),” kata Theo.

Seminggu kemudian, majalah itu pun terbit dengan foto-fotoku di lima halaman dalam. Dan aku menjadi topik gosip terpanas di kantor hari itu.

Front Harbour, Singapore
Front Harbour, Singapore

Kuhabiskan sore harinya dengan berlari di sepanjang dermaga Front Harbour. Tempat yang menyenangkan untuk berolah raga diiringi angin sepoi-sepoi. Sejam kemudian aku terduduk di lantai kayu dermaga sambil meminum air putih dan menikmati pemandangan pelabuhan yang cantik

Tiba-tiba saja bayangan itu muncul. Bayangan seorang perempuan berambut panjang, berjalan dari arah Sentosa Island menuju stasiun Front Harbour. Itu dia. Perempuan yang kutemui malam itu di Clarke Quay.

“Excuse me lady. Could I talk with you? (permisi nyonya. Bisakah saya berbicara denganmu?)”. Aku berlari mengejarnya dan setengah berteriak memanggilnya.

Perempuan itu sempat menghentikan langkahnya dan terdiam. Namun dia tidak menoleh sama sekali. Setelah itu dia malah mempercepat jalannya. Aku pun terkejut lalu mencoba mengejarnya

“Halo lady. Please, wait for me (Halo nyonya. Tolong tunggu saya) “ujarku.

Aku mempercepat lariku. Tidak sia-sia aku berlatih tiap hari. Akhirnya aku berhasil mengejarnya. Kupegang erat lengannya sehingga langkahnya tertahan.

Dia pun akhirnya berhenti. Membalikan badannya, lalu menatapku. Melihatku dengan mata yang lelah, dan raut wajah tua.

(bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s