Jalan-jalan Pakai Kaki ke Kota Bandung yuk!

Jalan-jalan ke Bandung akhir pekan? Ough macetnyaa. Komentar itu yang sering saya dengar dari teman-teman asal Jabodetabek setelah mereka melancong ke kota kelahiran saya.

Jawabannya memang bener sodara-sodara, jalanan Bandung macet sekali di akhir pekan. Itulah sebabnya warga asli Bandung justru lebih suka di rumah kalau lagi tanggal merah. Kecuali mereka yang terpaksa bekerja atau kebutuhan penting lainnya.

Tapi jangan putus asa gitu dong nikmati Bandung di akhir pekan. Masih bisa ko menikmati Bandung minim macet. Caranya? Ya kenapa juga harus pakai mobil pribadi. Kenapa juga gak pake transportasi umum buat sampai ke Bandung, lalu jalan-jalan pake kaki keliling kota. Lagipula pada hakikatnya jalan-jalan itu kan pake kaki, bukan pake mobil.

Dimulai dari sini. Pilih sepatu senyaman mungkin ya.
Dimulai dari sini. Pilih sepatu senyaman mungkin ya.

Cara ini juga sangat menghemat waktu buat kamu yang cuman sekedar bolak balik satu hari buat main ke Bandung. Kalau sekedar buat nikmati suasana kota, sambil icip-icip kuliner mah bisa banget. Bandung kotanya kecil ko.

Peringatan : maksud saya kecil adalah Kota Bandung ya. Kalau Cimahi, KBB (Lembang dll), atau Kabupaten Bandung (Ciwidey dll) itu mah bukan Kota Bandung hehehe. Jadi kalau tujuannya ke sana, ya udah nyewa mobil lagi aja karena kalau jalan kaki bakalan gempor sodara-sodara.

Kebiasaan jalan-jalan pake kaki buat muterin Kota Bandung sebenarnya sering saya lakukan waktu SMA. Kebetulan dulu sekolah di pusat kota gitu (sombong), jadi gampang kalau mau jalan-jalan pake kaki menikmati Bandung yang masih rimbun.

Saya pun melanjutkan kebiasaan itu saat bekerja di perusahaan layanan telekomunikasi sekitar 9 tahun lalu. Pekerjaan itu memiliki jam kerja tidak biasa, mulai pukul 06.00-14.00 atau 07.00-15.00. Kesempatan itulah saya gunakan untuk menikmati Bandung di sore hari. Biasanya rutenya dari kantor saya di Buah Batu menuju daerah Dago dan sekitarnya. Gak usah mengganti kostum, pakai baju kerja pun tak mengapa. Cukup mengganti sepatu 7 cm yang saya kenakan dengan sandal jepit.

Trus gimana cara yang paling mudah untuk jalan-jalan pakai kaki ke Bandung? Buat warga ibukota dan sekitarnya, cara yang paling mudah adalah dengan menggunakan travel atau kereta api. Misalnya saja saya yang akhir pekabn kemarin memilih menggunakan Travel menuju Cihampelas.

Dari dua pemberhentian itu, kamu bisa berjalan kaki menuju pusat kota. Tempat yang bisa kamu kunjungi di pusat kota misalnya Balaikota, Braga dan Asia Afrika. Di tiga tempat ini kamu bisa menikmati arsitektur bangunan tua Kota Bandung. Ada juga museum Asia Afrika yang terbuka buat umum. Setelahnya kamu bisa beristirahat di alun-alun yang rumputnya sintetis itu heu heu.

Papan petunjuk di Jalan Wastukencana. Bwok kanan jika ingin kw arah Balai Kota atau kompleks outlet di Jalan RE Martadinata
Papan petunjuk di Jalan Wastukencana. Belok kanan jika ingin ke arah Balai Kota atau kompleks outlet di Jalan RE Martadinata

Atau kamu bisa juga menuju arah Jalan RE Martadinata aka Jalan Riau. Ini tempat kamu berbelanja di factory outlet sekaligus kulineran di sepanjang jalan.
Jika pilihanmu berbelanja ke pasar baru, saya menyarankan menggunakan kereta api karena lebih dekat. Jaraknya sebenarnya sangat dekat, namun sedikit memutar.

Sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan itulah kamu akan menemukan banyak sekali tempat kuliner mulai dari kaki lima sampai Cafe. Jangan khawatir dengan makanan kaki lima di Bandung gaes. Menurut aku makanan kaki lima di Bandung seringkali malah lebih enak daripada di restoran. Soal harga pastinya lebih murah lah.

Berikut rekomendasi beberapa tempat makan favorit saya. Cuman sedikit tapi, sisanya bisa menggogle seperti biasa :
– Bakso Semar (Jalan Cihampelas bawah)
Kalau naik Travel dari Cihampelas, tinggal jalan ke arah selatan (ikuti jalan menurun) lalu sampai deh. Bakso ini terkenal dengan tulang rusuknya yang terjual terpisah dalam satu mangkok. Harga seporsi sekitar Rp 16 ribu- Rp 17.000.
– Mie Kocok (Jalan Kebon Jukut)
Nah ini lokasinya dekat dengan Stasiun Kereta Api Bandung. Tinggal jalan menuju Gedung Pakuan alias rumah dinas gubernur, lalu turun sedikit lagi. Tukang jualannya benar-benar masih pakai roda dan dipasang di depan Toko Kartika Sari. Tapi rasanya yummy, kalau kata orang sunda mah “lekoh pisan kuahna”. Pretelannya pun beneri-bener kikil. Tapi rasa pas hari kerja ko suka lebih enak daripada akhir pekan ya, entahlah itu mungkin hanya perasaan saya saja. Kalau gak salah harganya Rp 20 ribu semangkok. Agak mahal memang untuk makanan kaki lima di Bandung. Tapi rasanya sebanding lah. Emang-emang Mie kocok ini juga ditemani oleh tukang cendol, es duren, siomay, juga pedagang oleh-oleh khas Bandung seperti keripik tempe.

– Siomay Jalan Ternate
Rasanya gak lengkap kalau penggemar siomay gak makan jajanan ini di Bandung. Soalnya setiap gerobak tukang Siomay di Jakarta pasti ada embel-embelnya “Siomay Bandung”. FYI, orang jabodetabek selalu menyebut makanan ini adalah Siomay. Sementara orang Bandung menyebutnya bakso tahu. Perbedaan ini yang seringkali jadi perdebatan (maksudnya di sini, perdebatan saya dan teman-teman saya hahaha). Sebab sesungguhnya siomay itu adalah salah satu bagian dari bakso tahu. Anda bingung? Silahkan hubungi orang Bandung terdekat hahaha.

Oia mang bakso tahu ini juga ditemani sama mang cendol. Rasanya gak kalah sama cendol Elizabeth yang super manis itu. Meskipun di pinggir jalan, tempat makannya lumayan enak dan teduh ko. Jalan Ternate sendiri letaknya bersimpangan dengan Jalan RE Martadinata alias Jalan Riau.

Bakso tahunya dijual Rp 1.750/buah. Sementara cendol dijual Rp 8000 per gelas. Murah kan?

– Bakso Malang Fortuna
Maaf ya warga Malang, tapi menurut saya bakso Malang di Bandung jauh lebih enak daripada yang di Malang itu sendiri. Salah satunya adalah Bakso Malang Fortune di Jalan Taman Citarum dekat Masjid Istiqamah. Masih seputar Jalan RE Martadinata lah.

– Cuankie Serayu
Tempatnya sih kaya warung gubug biasa, tapi pembelinya kece-kece sodara-sodara (nyambung). Lokasinya masih di sekitar Jalan RE Martadinata, tapi agak ke bawah dikit (menjauh dari Jalan Ir. H. Juanda alias Jalan Dago).

Hmm segitu dulu aja deh rekomendasinya. Sisanya bisa dicari di mbah google. Atau kenapa gak coba jalan kaki dulu aja terus secara spontan jajan di tempat yang kamu lewati. Dijamin banyak yang enak dan unik ko.

Jalan-jalan pakai kaki juga terasa lebih khusyu karena bisa lebih menikmati suasana kota. Termasuk diantaranya daun-daun yang berguguran di bulan September.

Memasuki bulan September, jalan-jalan di Kota Bandung mulai dipenuhi daun-daun yang berguguran. Pada bulan ini, angin terasa lebih kencang, udara lebih kering dan menusuk kulit pada malam dan pagi hari.
Memasuki bulan September, jalan-jalan di Kota Bandung mulai dipenuhi daun-daun yang berguguran. Pada bulan ini, angin terasa lebih kencang, udara lebih kering dan menusuk kulit pada malam dan pagi hari.

Sayangnya jalan-jalan pake kaki ini terasa kurang nyaman akibat trotoar yang kurang memadai. Belum lagi di beberapa tempat, trotoar terus dibongkar pasang sehingga membuat pejalan kaki menjadi kurang nyaman. Mudah-mudahan ini jadi perhatian pemda setempat ya.

Gimana tertarik buat jalan-jalan pakai kaki ke Kota Bandung? Jangan lupa pakai sepatu yang nyaman ya. Saya percaya warga yang berdomisiliĀ di Jabodetabek bisa melakukannya. Karena pada hakikatnya, betis mereka sehari-hari telah ditempa dengan perjalanan menuju KRL dan halte busway, lalu berdiri berdesak-desakan di sepanjang perjalanan hohohoho.

Wilujeng jalan-jalan di Bandung!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s