Tua dan Menginspirasi

Setiap tahun selalu ada rumah yang aku dan suamiku datangi. Dia adalah rumah seorang perempuan berusia senja yang kami panggil Ninong. Kebetulan rumahnya berada satu kota dengan kampung halamanku di Bandung.

Ninong sebenarnya saudara jauh suamiku. Dia adalah tante dari nenek suamiku. Tapi setiap lebaran, keluarga suami pasti selalu sengaja mampir ke rumahnya. Saat aku tanya alasannya kenapa? Suamiku tidak menjawab pasti. Dia bilang itu karena masih saudara.

Lalu aku pun bertanya, apakah mereka pernah mengunjungi saudara neneknya yang lain secara sengaja? Jawabannya tidak juga. Lalu kenapa suamiku hanya akrab dengan ninong, sementara dengan anak dan cucu ninong terlihat kaku? Suamiku pun tidak bisa jawab dengan pasti.

Tapi aku rasa aku tau jawabannya. Kenapa? Ini bukan masalah saudara atau tidak. Ini lebih karena sosok ninong itu sendiri. Dia adalah pribadi yang menyenangkan. Setiap bertemu dengannya, ada perasaan hangat yang membuat kami selalu bersemangat untuk menjalani hidup. Membuat kami senang hati untuk kembali mengunjunginya.

Oke, biarkan aku bercerita tentang ninong. Usia Ninong kutaksir sekitar 80-90-an. Kami belum tau pasti usianya, mungkin nanti akan aku tanyakan tanggal kelahirannya saat bertemu lagi. Dia dulu seorang guru Sekolah Dasar. Almarhum suaminya seorang dosen yang juga penulis buku-buku pelajaran.

Setiap kami datang ke rumahnya, dia selalu menyambut kami dengan sapaan hangat. Seolah kami adalah tamu yang paling dia nanti. Wajahnya langsung ceria, tangannya terbuka meminta kami untuk memeluknya.

Usia tua tidak mengalahkan ingatannya. Dia ingat semua nama kami. Bahkan ninong mengingatku saat pertama kali ke rumahnya. Sebelumnya dia memang datang ke pernikahanku. Dan sampai saat ini dia juga mengingat cerita-cerita tentang aku.

Misalnya saja saat kemarin aku masih menjalani pernikahan jarak jauh dengan suamiku. Dia selalu bertanya saat bertemu, bagaimana masihkah berjauhan? Ya, aku pernah menjalani pernikahan jarak jauh selama tiga tahun.

Saat mendengar kondisi aku, dia tidak lantas menghakimi “oh kamu perempuan dan kamu harus ikut suami kamu”. Padahal kalau dia berkata begitu, aku pun memakluminya mengingat perempuan di masa mudanya biasanya mengikuti suami ke mana pun dia pergi.

Tapi dia tidak, ninong mendengarkan ceritaku, alasanku. Ninong tidak pernah memposisikan dirinya sebagai orang yang jauh lebih tua. Dia mendengarkan ceritaku seperti seorang sahabat. Dia membuat aku yang tadinya ragu-ragu bercerita menjadi percaya untuk mengatakan semua yang aku rasakan. Dan ninong membuat aku percaya bahwa dia mendengarkan ceritaku dengan sungguh-sungguh. Sikapnya seolah berkata padaku “tidak apa, aku percaya kamu memiliki alasan untuk itu”.

Semua itu terangkum dalam sikapnya, bukan dengan ucapan. Setelah mendengar aku bercerita dia pun berkata “Ninong doakan semoga kalian ada jalan untuk cepat bersatu ya”. Lalu dia pun mengadahkan tangannya tanda berdoa.

Ninong memang lebih banyak mendengarkan daripada bercerita mengenai dirinya sendiri. Itulah sebabnya banyak hal yang belum saya tau tentang dia. Baiklah, aku bertekad untuk lebih banyak bertanya tentang dia kalau bertemu lagi.


Satu lagi yang membuatku terpesona dengan sikapnya, Ninong merupakan pribadi yang optimis. Dia selalu ceria, berpikir positif tentang apa yang dia jalani.

Sering aku berpikir bahwa optmisme kita akan semakin memudar seiring bertambahnya usia. Cobaan, kegagalan, jalan hidup yang berliku akan membuat manusia trauma. Semakin sering mengalaminya, semakin banyak ketakutan yang dialami manusia. Pilihan hidup pun akan menyempit dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. Jiwa petualang menjadi terpenjara. Kita akan cenderung melakukan hal-hal standar yang berlaku secara umum.

Tak heran para orang tua selalu melarang anak-anaknya, jangan gini nanti kamu…jangan gitu nanti kamu…. Kegagalan yang orang tua alami atau dia lihat dari orang lain seringkali terlalu membekas dalam ingatan mereka. Lalu mereka pun “melampiaskannya” pada orang muda di sekitarnya dalam bentuk kekhawatiran. Itu karena mereka terlalu takut anaknya nanti mengalami hal buruk.

Namun mereka lupa bahwa jalan hidup seseorang tidak selalu sama. Meskipun pilihannya sama, namun hasil akhirnya bisa jadi sangat berbeda. —> dan aku pun jadi berteori, jangan terlalu dianggap serius, apeulah aku ini. Hanya saja aku coba memahami sikap orang tua dari sudut pandang mereka.

Tapi tidak dengan Ninong. Dia semacam orang tua yang mengikuti jaman. Saya sebut dia “nenek kece yang kekinian”. Eh bukan nenek, kalau dilihat dari struktur keluarga sebenarnya dia buyut saya.

Lalu kenapa saya mengatakan dia pribadi yang optimis? Itu bukan karena tercermin dari sikap dia kepada orang lain, apalagi menceramahi orang lain. Tidak, bukan itu. Itu tercermin dari cara dia memperlakukan diri sendiri.

Dia sama sekali bukan pribadi yang mengeluh. Bayangkan tubuhnya sudah renta, berjalan saja susah. Dia menghabiskan waktunya di rumah, duduk berlama-lama di kursi atau tempat tidur. Jika sekarang aku seperti itu, mungkin aku akan merasa sangat bosan, melow seolah langit akan runtuh menimpa duniaku.

Tapi sekali lagi, tidak ada gerutu keluar dari mulutnya. Dia tidak pernah sekalipun bercerita tentang kesusahan dan hal-hal yang menyedihkan dalam hidupnya. Tidak pernah berkeluh kesah tentang kekhawatirannya. Aku yakin dia pasti pernah merasa sedih atau berbagai macam perasaan lainnya. Bagaimanapun dia manusia. Tapi dia tidak mudah menunjukkannya pada orang lain. Sikapnya seperti mengatakan “oh hidupku oke dan aku akan menjalaninya 100 tahun lagi”.

Herannya dia masih memancarkan aura yang sama saat terakhir aku bertemu dengannya. Padahal waktu itu dia baru saja jatuh dan mengalami cedera. Ninong tidak bisa berjalan, bahkan duduk sendiri pun tidak bisa. Dia hanya bisa berbaring di tempat tidur, seharian. Jujur saat melihat kondisinya aku berkata dalam hati “oh tidak, dia tidak akan sembuh total”.

Aku jahat? Silahkan bila beranggapan begitu. Tapi aku hanya berpikir berdasarkan logika aku yang terbatas ini. Dia sudah berusia tua, tulangnya tidak seperti anak remaja yang gampang sembuh. Aku juga pernah melihat kondisi almarhumah uwaku yang jatuh dan terkilir tangannya, lalu tidak sembuh sampai dia meninggal. Mungkin kondisinya membaik, tapi tidak bisa sembuh total.

Dan kamu tau? Dia tetap ceria dong!

Memang sih dia jadi sering mengatakan “adu du duh” lalu mengerutkan keningnya dan menyentuh tubuhnya yang cedera setiap bergerak. Tapi dia tetap dengan sikapnya yang sama, menyambut kami dengan hangat, meminta kami memeluknya, menciptakan suasana yang riang, memancarkan aura bahwa hidup ini indah. Dia memberikan semangat padaku.

Dan saat itulah hatiku berteriak sekencang-kencangnya, “Mengapa kamu bisa melakukannya, di saat akulah yang seharusnya memberikan semangat untukmu?”

Ya, secara fisik aku lebih baik dari dia. Aku masih sehat, bugar, bisa pergi ke mana pun aku mau, melakukan apapun yang aku mau. Bukankah aku yang seharusnya menghiburnya dan mengatakan “semangat ya Ninong”.

Tapi itulah Ninong, dia seperti menunjukan bahwa usia tua bukan membuatnya lemah tapi kuat secara mental. Sikapnya seperti menyiratkan, menjadi tua itu sangat menarik karena kamu akan menjadi tambah bijaksana.

Dan dia mampu membuatku bermimpi untuk menjadi seperti dia. Aku ingin menjadi dia saat tua nanti. Yah, meskipun stereotype “perempuan galak” menempel di diriku saat ini, tidak ada salahnya kan punya mimpi hahahaha. (sebenarnya aku bingung sih kenapa orang-orang bilang aku galak? Padahal kan aku baik, ramah, senang membant… *ngoeeeeeng suara pesawat lewat).

Jika belum mengenalnya, Ninong memang terlihat bukan seperti orang hebat yang memiliki kekuatan untuk mengubah dunia. Bukan orang yang terlampau kaya, terlampau pintar, terlampau populer atau berkuasa akan sesuatu. Tapi di situlah kekuatannya. Dari situlah aku menyadari bahwa kita tidak perlu menjadi orang “hebat” untuk menjadi berarti bagi orang lain. Kita bisa jadi seperti sekarang dan membuat orang lain merasa lebih baik, membuat dunia lebih baik dengan hal-hal kecil. Caranya ya dengan menghargai diri sendiri, dan menyampaikan aura positif pada orang-orang yang kita temui.

Aku jadi membayangkan berapa banyak jiwa murung yang “diselamatkan” oleh orang-orang seperti Ninong. Berapa banyak perasaan putus asa yang disembuhkan mereka. Berapa banyak semangat yang ditularkan oleh mereka pada orang-orang di sekitarnya.

Dan dari semua jiwa yang terinspirasi dari orang-orang seperti Ninong, bisa saja diantara mereka muncullah manusia-manusia “hebat” yang berhasil mengubah dunia seperti definisi pertama di atas. Makanya menurutku, orang-orang seperti Ninong inilah yang pantas untuk dicap “bisa mengubah wajah dunia”.

Sikapnya membuat aku merasa untuk tidak berkecil hati dan berkata “ah da aku mah apa atuh”. Sikapnya membuat aku tidak takut untuk menjadi tua. Karena dengan tua, aku memiliki kesempatan untuk mengasah diri menjadi pribadi yang lebih bijaksana. Memiliki kesempatan untuk menjadi tua dan menginspirasi. (tdk)***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s